Rabu, 03 September 2008

Analisis Realisme Sosialis Pada Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer (Pendekatan Marxisme)

ANALISIS REALISME SOSIALIS PADA NOVEL BUMI MANUSIA KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
(Pendekatan Marxisme)
(Tugas Diajukan Untuk Memeroleh Nilai Tugas UAS Semester Genap)

Oleh:
Iwan Sugianto
(2006210002)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DR. SOETOMO
SURABAYA
2008


BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Karya sastra merupakan tiruan atau pemanduan antara kenyataan dengan imajinasi pengarang atau hasil imajinasi pengarang yang bertolak dari suatu kenyataan yang ada (semi, 1990:43). Dalam hal ini termasuk juga penciptaan sebuah novel. Novel juga bias mempengaruhi seseorang untuk bias bertindak atau meniru gaya dari novel yang dibacanya. Dengan alasan itu maka novel juga dimamfaatkan oleh para pengarang untuk memperoleh masa baik dalam hal dunia politik atau yang linnya.
Keadaan geografis, politik, social juga kebudayaan dapat mempengaruhi hasil dari suatu karya sastr. Karya sastra yang dihasilkan dari pegunungan tentu berbeda dengan karya sastra dari lingkungan laut. Demikian juga dengan sastra dari suatu kerajaan berbeda dengan sastra dari suatu daerah liberal. Sastra dari budaya timur berbeda dengan sastra budaya barat. Begitu juga dengan karya sastra dari golongan kiri akan berbeda dengan karya sastra dari golongan kanan.
Sastra dan realitas sosial masyarakat menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena sastra diproduksi dan distrukturasi dari berbagai perubahan realitas tersebut. Realitas pada sastra merupakan suatu cara pandang penciptanya dalam melakukan pengingkaran atau pelurusan atas realitas sosial yang melingkupi kehidupannya. Dengan demikian, sastra merupakan potret sosial yang menyajikan kembali realitas masyarakat yang pernah terjadi dengan cara yang khas sesuai dengan penafsiran dan ideology pengarangnya.
Marxisme merupakan filsafat kontradiksi, dan setiap usaha untuk menjelaskan teori Marxis secara rasional akan menghadapi inkontensi. Keyakinan akan keunggulan materi dan usaha simultan untuk menekankan peranan manusia dalam mengubah keadaan ini merupakan salah satu kontradiksi khas Marxisme.
Seandainya seseorang menerima bahwa kontradiksi ini dapat diselesaikan dengan menggunakan metode dialektis, masalah baru akan muncul, yaitu pertanyaan apakah setiap kritik metode dialektis juga dimungkinkan. Berbeda dengan formalisme rusia atau strukturalisme prancis, teori-teori sastra Marxis memiliki filsafat normative dengan ide-ide ekplisit tentang masalah-masalah epistimologis.
Menurut Selden (1986:23) di antara kritik sastra, tradisi Marxis dapat dianggap sebagai memliki sejarah yang paling panjang. Tradis ini di awali dengan gagasan-gagasan mengenai peranan ideology dan kebudayaan yang dikemukakan pada tahun 1840-an. Salah satu pernyataan yang hingga sekarang banyak dikutip orang sekaligus mendasari argumentasi penelitian kritik social, adalah: “keberadaan social manusia menentukan kesadaran sosialnya, bukan sebaliknya”. Argumentasi ini juga yang dianggap teori Marxian selanjutnya, yang juga diadopsi oleh kritik cultural lain, termasuk teori-teori kontemporer.
Marxisme merupakan teori filsafat kontradiksi, dan setiap usaha untuk menjelaskan teori Marxis secara rasional akan menghadapi inkonsistensi. Keyakinan akan keunggulan materi dan usaha simultan untuk menekankan peranan manusia dalam mengubah keadaan ini merupakan salah satu kontradiksi khas Marxisme.
Sebagai salah seorang sastrawan Indonesia, menurut Umar Kayam, Pramoedya Ananta Toer merupakan seorang figur transisional. Umurnya di sekitar angka yang sama dengan kebanyakan sastrawan Angkatan 45, tetapi latar belakang pendidikan (di mana ia tidak termasuk yang bersekolah pada sekolah menengah Belanda) dan latar belakang budaya Jawa-nya yang begitu kuat, membuatnya berbeda dengan anggota lain kelompok tersebut.
Identitas kepengarangan dari Pramoedya yang khas menjadi identitasnya yakni Pramudya Ananta Toer sering kali juga melatarbelakangi ceritanya dengan paparan sejarah maupun pengalaman hidupnya. Tulisan-tulisan awalnya banyak mengambil latar belakang masa sebelum Perang Dunia Kedua, terutama kehidupan di sekitar kota Blora tempat ia tinggal di masa kecil, serta masa-masa seputar revolusi kemerdekaan.
Pramudya juga menulis cerita dengan latar belakang masa pendudukan Jepang di Indonesia, antara lain melalui roman Perburuan. Karyanya yang terbesar—empat mahakarya yang merupakan tetralogi berjudul Karya Buru (meliputi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca)—ditulis dengan latar belakang tamasya sejarah pergerakan nasional Indonesia 1898-1918. Menengok sejarah kembali ia lakukan untuk romannya yang terbit pertengahan 1990-an, berjudul Arus Balik, dengan latar belakang masuknya Islam ke tanah Jawa.
Kegandrungannya terhadap sejarah ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh teori sederhana Maxim Gorky: "The people must know their history" (rakyat mesti tahu sejarahnya). Pengaruh lain bisa disebutkan datang dari aliran realisme, terutama realisme sosialis. Bagi Pramoedya, salah satu watak realisme sosialis adalah "terutama memberanikan rakyat untuk melakukan orientasi terhadap sejarahnya sendiri".
Pengaruh realisme sosialis jelas bukan sesuatu yang mengada-ada, sebab Pramoedya sendiri kerap mengungkapkan antusiasmenya terhadap aliran tersebut. Ia antara lain pernah menulis makalah dalam kesempatan memberikan prasaran untuk sebuah seminar di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tanggal 26 Januari 1963, dengan judul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia. Selain oleh Pramoedya, klaim realisme sosialis juga dipergunakan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai dasar kreatif mereka.
Dalam tradisi seni sendiri, kelahiran realisme sosialis sebagai aliran seni agak sulit ditentukan waktunya secara pasti. Akan tetapi, menurut Pramoedya, realisme sosialis diperkirakan muncul sekitar tahun 1905. Dalam hal ini Maxim Gorky adalah pengarang yang sering dianggap sebagai bapak pendiri realisme sosialis.
Lebih lanjut, perkembangan sastra realis ini tidak bisa lepas dari cara pandang manusia terhadap sejarah yang berubah, terutama di Eropa, tempat kelahiran tradisi realisme itu sendiri. Hal ini tampak misalnya dalam tinjauan Lukács atas epik Tolstoy, War and Peace. "Prinsip-prinsip yang ia (Tolstoy) ikuti dalam realismenya secara obyektif menampilkan suatu kesinambungan tradisi realis terbesar, tapi secara subyektif prinsip-prinsip ini ditimbulkan dari masalah-masalah pada masanya serta dari sikapnya terhadap masalah terbesar zamannya, yakni hubungan penindas dan tertindas di pedesaan Rusia".
Dengan begitu, realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan lingkungan sosialnya. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakikat dari realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana "penyadaran" bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing (teralienasi, dalam istilah Marxis) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.
Sekitar tahun 1950-an, beberapa seniman kiri menemui Nyoto untuk menyatakan peranan seni dalam perjuangan kelas. Nyoto sendiri dalam pidato sambutan pendirian Lekra yang berjudul Revolusi adalah Api Kembang menyatakan bahwa hanya ada dua pertentangan antara dua asas besar, yakni kebudayaan rakyat dan kebudayaan bukan rakyat, dan tak ada jalan ketiga. Dan baginya, tak mungkin kebudayaan rakyat bisa berkibar tanpa merobek kebudayaan bukan rakyat.
Akan tetapi, Pramoedya dalam Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia menyenarai, jauh hari ke belakang tradisi sastra realisme sosialis Indonesia telah muncul melalui, antara lain, Sumantri dengan karya novelnya yang berjudul Rasa Merdika. Nama lain yang bisa disebut ialah Semaoen (Hikayat Kadirun) serta Mas Marco Kartodikromo (Student Hijo).
Realisme sosialis mereka memang bukan layaknya realisme sosialis yang berkembang kemudian. Keberpihakan mereka terhadap rakyat pekerja yang lemah lebih merupakan suatu komitmen sosial, dan bukan atas dorongan landasan-landasan yang lebih ilmiah seperti halnya realisme sosialis sebagai aliran yang datang lebih kemudian. Atau dengan kata lain, realisme sosialis mereka bisa dikatakan sebagai realisme sosialis "cikal bakal" yang masih bersifat sosialisme utopis. Sedikit membela mereka, Pramoedya mengistilahkannya sebagai kekeliruan, bukan kesalahan.
1.1. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana Realisme sosialis dilihat dari segi pertentangan kelas pada novel bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer?
2. Bagaimana Realisme Sosialis Dilihat Dari Kedekatan Atau Pembelaan Kaum Borjuis Terhadap Kaum Proletar?
3. Bagaimana Realisme Sosialis Dilihat Dari Perlawanan Kaum Proletar Kepada Borjuis?

1.2. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penulis memberikan tujuan dari peneliti sebagai berikut:
1. Mendiskripsikan Realisme sosialis dilihat dari segi pertentangan kelas pada novel bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer.
2. Mendiskripsikan Realisme Sosialis Dilihat Dari Kedekatan Atau Pembelaan Kaum Borjuis Terhadap Kaum Proletar.
3. Mendiskripsikan Realisme Sosialis Dilihat Dari Perlawanan Kaum Proletar Kepada Borjuis.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Realisme Sosialis
Realisme sosialis lahir sebagai penerus tradisi seni kritis, yang terutama merupakan bentuk baru dari tradisi realisme yang berkembang di Eropa. Realisme (klasik), dalam catatan Georg Lukács, muncul dalam atmosfer "membuyarnya awan mistisisme, yang pernah mengelilingi fenomena sastra dengan warna dan kehangatan puitik serta menciptakan suatu atmosfer yang akrab dan ’menarik’ di sekitarnya".
Dalam kalimat tersebut Lukács merujuk pada masa pertengahan abad kesembilan belas serta diterimanya filsafat Marxis. Filsafat sejarah Marxis, masih menurut Lukács, menganalisis manusia secara keseluruhan, dan menggambarkan sejarah evolusi manusia juga secara keseluruhan. Ia berusaha untuk menggali hukum tersembunyi yang mengatur seluruh hubungan manusia. Dengan cara ini, filsafat Marxis memberi jembatan ke arah sastra klasik dan menemukan sastra klasik yang baru: Yunani kuno, Dante, Shakespeare, Goethe, Balzac, atau Tolstoy. "Realisme terbesar yang sesungguhnya dengan demikian menggambarkan manusia dan masyarakat sebagai wujud yang lengkap, dan bukan semata-mata memperlihatkan satu atau beberapa aspeknya".
Dalam definisi Pramoedya, "Realisme sosialis merupakan metode yang meneruskan filsafat materialisme dalam karya sastra serta meneruskan pandangan sosialisme-ilmiah. Dalam menghadapi persoalan masyarakat, realisme sosialis mempergunakan pandangan yang struktural fundamental".
Lebih lanjut, perkembangan sastra realis ini tidak bisa lepas dari cara pandang manusia terhadap sejarah yang berubah. Dengan begitu, realisme sosialis sesungguhnya merupakan teori seni yang mendasarkan pada kontemplasi dialektik antara seniman dan lingkungan sosialnya. Seniman ditempatkan tidak terpisah dari lingkungan tempatnya berada. Hakikat dari realisme sosialis ini bisa dikatakan menempatkan seni sebagai wahana "penyadaran" bagi masyarakat untuk menimbulkan kesadaran akan keberadaan dirinya sebagai manusia yang terasing (teralienasi, dalam istilah Marxis) dan mampu menyadari dirinya sebagai manusia yang memiliki kebebasan.
Sebelumnya, sejarah dipandang sebagai suatu gerak yang tetap, mutlak, dan alamiah. Perkembangan selanjutnya dari cara pandang ini adalah munculnya pemahaman baru mengenai sejarah. Sejarah mulai dipandang sebagai perubahan yang justru tergantung kepada diri manusia itu sendiri.
"Para filsuf hanya memberikan interpretasi berbeda kepada dunia, yang perlu adalah mengubahnya", itu salah satu bunyi Tesa-tesa mengenai Feuerbach Marx. Manusia, dengan pikiran dan perbuatannya, mampu menentukan arah dari gerak sejarah. Sejarah tidak bersifat mandiri atau berada di luar jangkauan manusia. Dalam arah pemikiran seperti itulah realisme sosialis lahir untuk menempatkan kaum lemah (proletar, dalam bahasa Marxis) sebagai manusia-manusia penggerak dan penentu arah sejarah. Dan secara serta-merta aliran ini mengambil jarak atau berseberangan dengan tradisi realisme sebelumnya yang lebih memihak kepada golongan penguasa (atau borjuis), yang kemudian dikenal dengan nama realisme borjuis.

2.2 Tokoh-Tokoh Marxis
2.2.1 Karl Marx dan Frederik Engels
Menurut Marx susunan masyarakat dalam bidang ekonomi yang dinamakna bangunan bawah menentukan kehidupan social, politik, intelektual dan cultural bangunan atas. Sejarah dipandang sebagai perkembangan terus menerus; daya- daya kekuatan di dalam kenyataan secar progresif mereka dan ini semuanya menuju masyarakat yang ideal tanpa kelas. Dalam teori ekonominya Marx terutama menerangkan, bagaimana pertentangan antara kelas borjuis dan proletar yang jaya akan melaksanakan masyarakat tanpa kelas. Bagi Marx sastra sama dengan gejala-gejala lainnya mencerminkan hubungan ekonomi, sebuah karya sastra hanya dapat dimengerti kalau itu tidak dikaitkan dengan hubungan-hubungan tersebut.
Perhatian Marx terhadap sastra dapat dilihat dari surat-surat serta karangannya yang tanpak betapa Marx menghargai sebuah lukisan mengenai kenyataan masyarakat di dalam sastra yang sesuai dengan contahnya, namaun ia juga tidak buta terhadap nilai-nilai sastra. Ia menolak pandangan determinisik yang sempit, seloah-olah perubahan dalam bangunan atas langsung diakibatkan oleh perubahan bangunan bawah. (saraswati, 2003:37-38). Pendapat Marx dalam sastra yang masih abstrak di atas diuraikan lebih lanjut oleh Engels. Menurut Engels sastra adalah cermin pemantul proses social.
Dari idealisme jerman, Engels meminjam pandangan bahawa setiap tokoh dalam novel harus menjadi “sebuah tipe, tetapi juga sekaligus menjadi sesorang individu tertentu, seorang ‘yang ini’, seperti dinyatakan sendiri oleh hegel” (fokkema, 1998:111).
Di dalam suratnya kepada Margaret harknes yang di tulis pada awal april 1888, Engels berpendapat bahwa pemilihan karakter yang bersifat tipikal harus sesuai dengan persyaratan realisme. Dalam suratnnya yyang ditulis dalam bahasa ingris ini, Engels menulis suatu kalimat terkenal : “realisme, menurut saya, mengisyaratkan, di samping kebenaran yang terperinci, juga terproduksi tokoh yang khas dalam keadaan khas” (Marx dan Engels dalam fokkema, 1998:112).
2.2.2 Lenin
Lenin mengagumi karya seni yang agung dan merasa terganggu oleh permasalahan bagaimana ccaranya mendamaikan karya seni yang agung dengan revolusi. Lenin menentang pemutusan semua ikatan dengan karya sastra besar, yang mendorong untuk mengungakapkan kekagumannya akan karya sen yang agung dengan istilah-istilah politik.
Penilaian Lenin terhadap sastra besar didasarkan pada norma histories dan norma politis langsung. Lenin juga merupakan orang yang berjasa dan dapat dipandang sebagai peletak dasar bagi kritik sastra Marxis. Ia menulis lebih banyak daripada Marx tentang masalah-masalah teoritis yang berkaitan dengan sastra dan mengembangkan suatu visi yang jelas tentang sastra.
Prinsip-prinsip realisme sosialis dapat dilacak kembali pada teori Marxis mengenai proses perkembangan sejarah, lagi pula pada pandangan Lenin bahwa partai harus memainkan peranan sebagai pemimpin dalam proses tersebut. Pengarang-pengarangpun harus tunduk pada partai tersebut.
2.3 Perkembangan Sastra Marxis Di Indonesia Sosialisme Di Indonesia
Perkembangan Marxis di Indonesia tidak lepas dari masuknya moderenisme di hindia belanda pada awal abad ke-20, yang sekaligus sebagai moment kebangkitan nasional. Sosialisme, terutama dibawa ke indionesia oleh orang-orang belanda beraliran social-demokrat. Sneevliet, baar, brandsteder, dekker, dan c. hartogh adalah nama-nama belanda yang pertama-tama membawa sosialisme- yang didasari ajaran Marx dan Engels-ke bumi Indonesia.
2.3.1 Sneevliet dan Semaoen
Dari deretan nama tersebut, Sneevliet (1883-1942) bias dikatakan sebagai yang paling menonjol. Pada tahun 1914, ia mendirikan ISDV (indische social democratische vereeninging) di semarang ISDV merupakan organisasi pertama di hindia belanda yang berlandaskan Marxisme. ISDV memainkan peranan penting dalam mempengaruhi organisasi-organisasi pribumi yang telah berdiri sebelumnya, serta para aktivis pergeraklan untuk beralih menjadi lebih condong kepada sosialisme revolusioner. Dikalangan pribumi sendiri, semaon dan darsono dan sserikat islam (SI) semarang, bias dikatakan sebagai pelopor Marxisme di Indonesia.
SI semarang yang yang semula didukung oleh kaum menengah dan pegawai negeri, di tangan semaoen menjadi organisasi kaum buruh dan rakyat kecil. Perubahan-perubahan ini yang kemudia dipertajam oleh radikalisasi organisasi, tentu tidak terjadi begitu saja. Setidaknya ada kondisi-kondisi tertentu mengapa terjadi perubahan, sekaligus menjawab bagaimana sosialisme pertama kali berkembang di Indonesia.
2.4 Marxisme Dalam Karya Sastra Indonesia
Sastra-sastra sosialis banyak menggambarkan kondisi serta gejolak masyarakat di masa tersebut. Sastra sosialis banyak muncul di surat-surat kabar (antara lain yang dimuat secara bersambung) yang dikelola para aktifis oleh para gerakan, serta sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit-penerbit swasta atau badan-badan tertentu (misalnya oleh kantor PKI). Berikut merupakan perjalanan sastra Marxis di Indonesia (teeuw dalam saraswati, 2003:51-58)

a. Tahun 20-an
Karya pertama yang dapat diperkenalkan dari sastra sejenis ini misalnya sebuah karya dari hadji moekti berjudul hikajat siti Mariah. Karya ini diterbitkan secara bersambung sebanyak 284 kali di surat kabar medan priaji bandung, dari 7 november 1910 sampai 6 januari 1912. cerita bersambung ini menggambarkan secara kompleks pertarunga social, politik dan ekonomi dari berbagai lapisan social.
Kadar sosialis yang lebih tinggi kemudian muncul dalam roman yang terbit di masa-masa selanjutnya. Satu contaoh yang menarik adalah hikajat kadirun (1920) karya samaoen. Hikajat kadirun menceritakan pemuda cerdas yang bernama kadirun yang bekerja sebagai pegawai negeri dalam pemerintahan colonial . seiring dengan kesadaran dirinya melihat kemiskinan dan penderiataan rakyat, ia mulai merasa kecewa dan mulai berhubungan dengan pemimpin-pemimpin PKI dan akhirnya menjadi pendukung penuh PKI.
Sastra sosialis kemudian ssemakin matang dan lebih jelas terbentuk dalam karya Marco Kartodikromo (mas Marco dalam saraswati, 2003:52) pada tahun 1914 ia menerbitkan novel yang kontroversial berjudul mata gelap yang penuh dengan pornografi. Novel lainnya adalah Student Hidjo (1918).
Metode dialektik dalam analisis permaslahan social masyarakat yang bias dipergunakan dalam karya sastra realisme sosialis moderen, mulai muncul dalam novel rasa Mardika tersebut. Itula antara lain beberap karya yang bias dikategorikan sebagai sastra sosialis atau sastra realisme sosialis dalam tahap awal. Perkembangannya kemudian mulai agak tersendat dan bias dikatakan mati mengingat penyaringan (sensor) pemerintah colonial yang semakin bertambah. Factor lain tentunya berhubungan dengan kegagalan pemberontakan PKI pada bulan November 1926 yang secara langsung maupun tidak langsung semakin membuat karya sastra perlawanan tenggelam. Kondisi kejatuhan sastra sosialis ini berlanjut sampai zaman perang (perang dunia ke 2 atau datangnya tentara jepang 1942). Sastra sosialis yang berwatak utopis telah menjadi catatan dalam sejarah, diganti oleh munculnya sastrawan-sastrawan yang memiliki landasan ideology yang lebih kuat dimasa selanjutnya. Ini terutama semakin meningkat di masa setelah perang, dan mencapai pembentukan barunya pada kelompok lembaga kebudayaan rakyat (Lekra), sebagai tahap berikutnya sebagai komitment sosial dalam seni dan karya sastra.
b. Tahun 50-an
Buyung saleh telah memperlihatkan sikap seorang Marxis pada tahun 1953 waktu dia merumuskan perbedaan antara pujangga baru dengan angkatan 45 dengan cara lain. Sastrawan pada saat itu chairil anwar, protestanisme dan katolisisme dan dari sifat keislaman hingga pada kesusastraan jembel dengan lunas-lunas realisme-sosialis. Pengarang lekra yang lain misalnya tokoh dari medan bakri siregar, HR. bandaharo dan bahtiar siagan kemudian as. Darta.
Para seniman lekra itu tidak meragukan sama sekali bahwa para seniman mempunyai tugas dan tanggung jawab yang merupakan khidmat terhadap masyarakat dan lebih tepat lagi kepada rakyat yang dianggotainya itu. Jelaslah cita-cita lekra untuk Indonesia pada saat ini. Apa yang dikatakan kemanusiaan universal dan angkatan 45 yang sebenarnya, sesungguhnya adalah sebuah universalisme yang merupakan baju baru bagi l’art pour l’art yang lama itu karenanya merupakan suatu pemlihan yang bertentangan dengan hari esok-sebagaimana yang telah dinyatakan oleh klara akustia (karena nyokong atau menentang)
Di dalam lekra ideology sudah ditempatkan di atas seni. Apa yang penting bagi seniman adalah pemahaman bahwa dirinya – tak berbeda dari kaum politik, ilmuan atau karyawan – terlihat sebagai peserta dalam perjuangan untuk membebaskan rakyat dari penindasan kelas yang berkuasa. Dalam basis seni secara teoritis, lekra selalu menekankan tanggung jawab politik dan moral seniman terhadap rakyat yang menderita, tetapi hamper tidak pernah memasuki masalahnya yang penting, yaitu bagaimana ideology itu harus dituangkan di dalam seni. Suatu karya seni ditimbang atas dasar dampaknya atau dampak yang diperkirakan.
2.5 Tokoh-Tokoh Sastra Lekra
Jumlah pengarang yang mengisi lembaran-lembaran kebudayaan kian hari kian bertambah. Ada nama baru yang untuk pertama kali menulis. Ada pula nama-nama yang sudah terkenal sebagai pengarang yang kemudian masuk lekra. Diantara golongan kedua itu bisa disebut Rijono Pratiknto, Utuy T. Sontani, Dodong Djiwa Praja, Pramudya Ananta Toer, dan lain-lain. Diantara yang namanya sejak mulai muncul selalu dalam lingkungan lekra adalah A.S. Dharta, Bachtiar Siagian, Bakri Siregar, Hr. Bandaharo, F.L. Risokotta, Zubir Agam Wispi, Kusni Sulang, B.A. Simanjuntak, Sugiarti Siswadi, Hadi S., dan lain-lain.
Penyair lekra diantara yang muda adalah Amarzan Ismail Hamid yang kadang-kadang menulis cerpen dan esai. Tetapi ia tak pernah menerbitkan buku sendiri, kecuali dalam bentuk penerbitan bersama yang banyak dilakukan oleh penerbit lekra berkenaan dengan sesuatu pokok soal yang sedang aktuil.

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Penelitian Kualitatif
Penelitian pada novel yang berjudul bumi manusia karya pramudya ananta toer menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Pendekatan sosiologi sastra bertujuan untuk mendiskripsikan bentuk unsure-unsur sosialis yang ada pada Novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer.
Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif karena unsure-unsur sosialis yang ada pada Novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer tersebut dalam proses menganalisis berkaitan dengan unsure sosial masyarakat yang diukur melalui diskripsi.
Penelitian kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data diskriptif yang berupa kata-kata tertulis atau lisan tentang perilaku orang-orang yang dapt diamati (moloeng, 1989:5)

4.2 Rancangan Penelitian
4.2.1 Sumber Data
Bumi Manusia adalah magnum opus, karya besar Pram yang ditulis saat ia berada di Pulau Buru bersama ribuan orang lainnya yang dituduh menjadi anggota partai terlarang (PKI) pasca dijatuhkannya Soekarno oleh Jend Soeharto dalam sebuah silent coup (kudeta diam-diam).
Roman tetralogi buru mengambil latar belakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke 20. dengan membacanya waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pererakan nasional.
Roman bagian pertama; bumi manusia, sebagai periode penyamaian dan kegelisahan di mana minke sebagai actor sekaligus creator adalah manusia berdarah priayai yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-eropaan yang menjadi symbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
4.2.2 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara:
1. Studi Pustaka. Membaca, mencatat dan memberikan tanda tentang kejadian atau tingkah laku yang sesuai dengan metode sosiologi sastra yang terdapat pada novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer
2. Memilih data yang terkait dengan konteks sosial pengarang, sastra sebagai cermin realitas sosial, dan fungsi sosial sastra yang diwujudkan dalam bentuk data yang berupa kutipan
3. Mengumpulkan beberapa informasi dari internet atau literature-literatur yang mendukung variable penelitian yaitu unsure realisme-sosial
4.2.3 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian sastra sifatnya data kualitatif pernyataan-pernyataan proses analisis data kualitatif melewati empat tahap yaitu:
a. Tahap Deskripsi
Pada tahap ini data-data yang telah terkumpul diklarifikasikan, dikategorikan, dan dikodekan kemudian didiskripsikan atau diapaparkan apa adanya.
b. Tahap Analisis
Tahap ini merupakan inti dari metode kualitatif. Pada tahap ini data-data kualitatif dianalisis secara Ilmiah berdasarkan acuan ilmiah pula. Ketetapan memilih acuan yang sesuai serta kemampuan dan keterampilan mengaplkasikan teori ke dalam pokok permasalahnnya yang sesuai serta kemampuan dan keterampilan mengaplikasikan teori dengan hal ini, para peneliti harus luas pengetahuannya (banyak membaca buku) punya kepekaan tinggi dan berlatih meneliti .
c. Tahap Penafsiran
Pada tahap ini peneliti sastra baru menafsirkan adanya kemungkinan-kemungkinan penelitian berdasarkan analisis. Penafsiran yang baik adalah penafsiran yang tidak sekedar berdasakan intuisi penafsiran tetapi penafsiranyang mempunyai pengalaman yang cukup.

d. Tahap Evaluasi
Tahap ini adalah tahap terakhir setiap program studi, yaitu mengevaluasi atau menilai dari seluruh hasil penelitian secara objektif (satoto, 1988:127)

BAB IV
ANALISIS DATA
Menurut Ian Watt sastra yang berusaha menampilkan keadaan masyarakat yang secermat-cermatnya mungkin saja tidak bisa diperdaya atau tidak bisa diterima sebagai cermin masyarakat. Demikian juga sebaliknya karya sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat secara teliti barangkali masih dapat dipercaya sebagai bahan untuk pengetahui keadaan masyarakat. Pandangan sosial sastrawan harus dipertimbangkan apabila sastra akan dinilai sebagai cermin masyarakat. (Damono, 1978:3)
Dalam penyajian analisis data ini peneliti mendiskripsikan realisme sosialis dari segi:
4.1 Realisme sosialis dilihat dari segi pertentangan kelas pada novel bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer.
4.2 Realisme Sosialis Dilihat Dari Kedekatan Atau Pembelaan Kaum Borjuis Terhadap Kaum Proletar
4.3 Realisme Sosialis Dilihat Dari Perlawanan Kaum Proletar Kepada Borjuis

4.1 Realisme Sosialis Dilihat Dari Segi Pertentangan Kelas Pada Novel Bumi Manusia Karya Pramudya Ananta Toer.
Dalam novel bumi manusia karya pramudya ananta toer terdapat realisme sosialis dilihat dari pertentangan kelas antara kelas atas (borjuis) dan kelas bawah (proletar). Hal ini dapat dilihat dalam kutipan-kutipan di bawah ini:

“tentu dada ini menjadi gembung. Aku belum pernah ke eropa. Benar tidaknya ucapan tuan direktur aku tak tahu. Hanya karena menyenangkan aku cendrung mempercayainya. Lagi pula semua guruku kelahiran sana, dididik di sana pula. Rasanya tak layak tak mempercai guru. Orang tuaku telah mempercayakan diriku pada mereka. Oleh masyarakat terpelajar eropa dan indo dianggap terbaik dan tertinggi nilainya di seluruh hindia belanda. Maka aku harus memepercayainya”(11)

Dalam kutipan di atas terdapat pertentang kelas yang menyatakan bahwa orang-orang eropa lebih pintar dari pada orang-orang pribumi pada waktu itu. Orang eropa juga di anggap mempunyai pendidikan yang lebih tinggi di banding orang-orang pribumi. Sehingga pada waktu itu orang-orang eropa menjadi guru sekolah. Dan semua guru pada waktu itu adalah orang-orang eropa. Kutipan lainnya yang menyatakan pertentangan kelas adalah sebagai berikut:

“aku tersinggung aku tahu otak H.B.S. dalam kepala Robert surof ini hanya pandai menghina, mengecilkan, melecehkan dan menjahati orang. Dia anggap tahu kelemahanku: tak ada darah eropa dalam tubuhku. Sungguh-sungguh dia sedang bikin rencana jahat terhadap diriku”(18)

Dalam kutipan di atas menunjukkan adanya pertentangan kelas antara orang eropa dan orang pribumi. Orang-orang pada saat itu bangga ketika dia mempunyai keturunan darah eropa. Karena derajat di mata masyarakat pada waktu itu aka tinggi di banding dengan orang pribumi. Hal serupa juga dapat dilihat dalam kutipan dibawah ini:
“rupa-rupanya kau masih anggap aku sebagai jawa yang belum beradap”()
Kutipan di atas menunjukkan jelas kalau masyarakat jawa yang tergolong masyarakat pribumi pada waktu itu di anggap tidak mempunyai adap, tatakrama atau sopan santun. Ukuran kesopanan pada waktu itu adalah orang-orang eropa yang dianggap lebih sopan daripada orang-orang pribumi. Hal tentang pertentangan kelas juga dapat dillihat dari kutipan sebagai berikut:

“ia masih menjabat tanganku, menunggu aku menyebutkan nama keluargaku. Aku tak punya, maka menybutkan. Ia mengernyit. Aku mengerti: barangkali aku di anggapnya anak yang tidak atau belum diakui ayahnya melalui pengadilan: tanpa nama keluarga adalah indo hina., sama dengan pribumi. Dan aku memang pribumi. Tapi tidak ia tak meuntut nama keluargaku.”(26)

Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui betapa terbentangnya pertentangan kelas waktu itu, terutama antara orang eropa dan orang pribumi. Orang eropa menganggap bahwa orang pribumi sama dengan indo hina, orang eropa keturunan pribumi yang tidak di akui oleh orang tuanya yang berdarah eropa. Orang pribumi juga tidak mempunyai nama gelar keluarga sehingga di anggap rendah oleh orang eropa. Kutipan yang lainnya yang menunjukkan pertentangan kelas antara orang eropa dan orang pribumi dapat dilihat dari kutipan di bawah ini:


“buka putera bupati manapun mama,. dan dengan memulai sebutan nama baur itu, kekikukanku, perbedaan antara diriku dengannya, bahkan juga keasingannya, mendadak lenyap” (35)

Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa pada saat itu anak seorang bupati atau anak seorang petinggi lainnya sangat dihormati. Dan hanya anak-anak bupati atau anak-anak petinggi yang bisa sekolah pada saat itu. Pertentangan kelas pada saat itu nampak jelas sekali antara kaum buruh atau golongan kelas bawah (proletar) dan golongan kelas atas (borjuis). Kutipan di bawah ini juga akan membuktikan bahwa terjadi pertentangan kelas pada saat itu yakni:

“…….. orang bekerja tanpa mengeluarkan suara, seperti bisu. Antara sebentar mereka menyeka badan dengan sepotong kain. Masing-masing mengenakan pengikat rambut berwarna putih. Semua berbaju putih dengan lengan tergulung sepuluh centimeter di atas sikut. Tidak semua lelaki. Sebagian perempuan, nampak kain batik di bawah baju putihnya. ….”(43)

Pada kutipan di atas menunjukkan bahwa dalam novel tersebut diceritakan bahwa orang-orang yang bekerja atau orang-orang yang bekerja menjadi buruh waktu itu adalah orang-orang pribumi, hal itu tampak pada kalimat “nampak kain batik di bawah baju putihnya” sedangkan kain batik adalah cirri khas orang jawa yang menandakan bahwa orang jawa pada saat itu memang menjadi pekerja atau buruh dalam perusahaan itu. Hal-hal yang berhubungan dengan pertentangan kelas dalam novel itu dapat di lihat dalam kutipan di bawah ini:

”Annelias bertepuk-teouk dan memperlihatkan dua jari pada siapa aku tahu. Sebentar kemudian datang seorang bocah pekerja membawakan dua buah topi bamboo, sebuah ia kenakan kepalaku, sebuah dikenakannya sendiri.”(44)

Pada kutipan di atas menjelaskan bahwa seorang bocah sudah menjadi pekerja atau buruh hal itu terdapat dalam kalimat “sebentara kemudian seorang bocah datang membawakan topi” kalimat itu menerangkan bahwa seorang bocah memang sudah bekerja. Hal yang berhubungan dengan pertentangan kelas juga dapat anda lihat dalam kutipan di bawah ini.

“nama minke juga bagus”, kata annelias. “mari pergi kekampung-kampung. Di atas tanah kami ada empat buah kampung. Semua kepala keluarga, penduduk bekerja pada kami.”(53)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa semua penduduk kampung itu tinggal di atas tanahnya dan bekerja kepada Nyi Ontosoroh atau annelias. Perbedaan kelas pada kutipan itu memang sangat mencolok sekali antara tuan tanah sebagai kaum borjuis dan pekerja sebagai kaum proletar. Kutipan di bawah ini juga membuktikan bahwa dalam novel tersebut memang terdapat perbedaan pertentangan kelas. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan di bawah ini.

“kowe kira, kalo sudah pakaian eropa, bersama orang eropa, bisa sedikit bahasa belanda lantas jadi eropa? Tetap monyet!”(65)

Kutipan di atas menunjukkan betapa terbentangnya perbedaan kelas dalam novel itu. Minke meski dia memakai pakaian eropa dan berbahasa belanda masih dikatakan monyet hanya karena dia orang pribumi. Di bawah ini juga menunjukkan perbedaan kelas dalam novel tersebut, yakni:

“Robert barang tentu akan membenci aku sebagai pribumi tanpa harga. Tuan Herman Mallemma tentu akan menyembur aku pada setiap kesempatan yang didapatnya. Dan apa yang bisa diperoleh di dunia ini tanpa bea? semua harus dibayar atau ditebus, juga sependek-pendek kebahagiaan”(100)

Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa betapa orang eropa sebagai orang yang terpelajar sangat membenci orang pribumi, dia menganggap kalau orang pribumi itu tidak mempunyai harga atau derajat yang sama dengan orang eropa. Hal tersebut juga dibuktikan dalam kutipan dibawah ini yakni terjadinya pertentangan kelas antara orang eropa dan orang pribumi.

“mamamu hanya seorang pribumi, akan tidak mempunyai suatu hak atas semua, juga tidak bisa berbuat sesuatu untuk anakkku sendiri, kau ann. Percuma saja akan jadinya kita bedua membanting tulang tanpa hari libur……”(112)

Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa orang pribumi memang tidak diakui secara hukum apabila kawin dengan orang eropa, kaum pribumi tidak akan dapat apa-apa. Betapa terbentangnya perbedaan kelas antara orang eropa dan orang pribumi. Di bawah ini juga menunjukkan pertentangan kelas antara orang eropa dan orang pribumi.

“sama, kalau begitu kita bias sama-sama pergi berlayar menjelajah dunia. Minke, kau dan aku. Kita bias bikin rencana, buka? Sayang kau hanya pribumi.”(157)

Dalam kutipan di atas sudah jelas minke sebagai orang pribumi tidak dikehendaki bergaul dengan orang-orang eropa. Dia tidak diharapkan bahkan tidak diakui kalau dia bergaul atau berghubungan dengan orang-orang eropa. Semua itu karena perbedaan atau pertentangan kelas antara orang eropa sebagai kaum borjuis dengan orang pribumi sebagai kaum proletar. Di bawah ini juga menunjukkan adanya pertentangan kelas, yakni sebagai berikut:

“……… jangan hukum sahaya lebih berat dari kesalahan sahaya. Sahaya hanya mengetahui yang orang jawa tidak mengetahui, karena pengetahuan itu milik bangsa eropa, dan arena memang sahaya belajar kepada mereka”(194).

Kutipan di atas menunjukkan adanya perbedaan kelas yakni kelas borjuis yang dianggap tidak memiliki ilmu pengetahuan dengan kelas proletar yakni orang eropa yang dikatakan sebagai orang yagn berilmu dan mempunyai sopan santun. Hal yang berhubungan dengan perlawanan atau perbedaan kelas juga terdapat dalam kutipan di bawah ini.

“salaman ucapan itu tak lama. Lurah-lurah tak layak menyalami bupati. Maka ayahanda menghemat tangannya dari barang seribu duaratus jabatan para punggawa desa. Mereka tinnggal duduk di atas tikarnya di pelataran sana”(201)

Kutipan di atas menunjukkan terjadi perbedaan kelas antara lurah dan bupati. Para lurah disebutkan tidak layak menjabat tangan bupati. Dalam kuitpan di bawah ini juga terdapat perbedaan atau pertentangan kelas, yakni:

“”minke, kalau kau bersikap begitu terus, artinya mengambil sikap eropa, tidak kebudak-budakan seperti orang jawa seumumnya, mungkin kelak kau bias jadi oraqng penting.kau bias jadi pemuka perintis, contoh bangsamu. Mestinya kau sebagai orang yang terpelajar sudah tahu bangsamu sudah rendah dan hina”(219)

Kutipan di atas menunjukkan terjadinya perbedaan kelas yang menganggap bangsa jawa sebagai orang pribumi dianggap rendah dan hina dibanding dengan orang eropa sebagai kaum proletar. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan pertentangan atau perbedaan kelas antara kaum proletar dan kaum borjuis, yakni:

“baik. Jadi kau membenci minke hanya karena dia pribumi dank au berdarah eropa. Baik. Memang aku mampu mengajar dan mendidik kau. Hanya orang eropa yang bias lakukan itu untukmu…….”(236)

Kutipan di atas menunjukkan tentang perbedaan kelas kalau Robert membenci minke hanya karena minke orang pribumi dan Robert orang eropa. Perbedaan dan pertentangan seperti itu juga terdapat dalam kutipan dibawah ini, yakni:

“……. Tuan telah mempelajari adab eropa selama ini, tentu tuan tau perbedaan antara sikap pria eropa dan pria pribumi terhadap wanita. Kalau tuan sama dengan pria jawa pada umumnya, anak ini tak akan berumur panjang….”(302)

Kutipan di atas menunjukkan perbedaan kelas antara orang pribumi dan orang eropa. Orang eropa dianggap lebih halus sifatnya disbanding dengan orang pribumi. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan tentang perbedaan antara orang pribumi dan orang eropa, yakni sebagai berikut:

“bagaimana pendapatmu sendiri? Mungkin kiranya pribumi bias jadi sarjana dalam keilmuan eropa? Terus terang, Papa sebenarnya meragukan. Kata papa-dan kau jangan gusar seperti dulu-kejiwaan pribum belum berkembang setinggi eropa; terlalu mudah pertimbangannya ayng baik terdesak oleh rangsang berahi……..”(330)

Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa bangsa pribumi jauh disbanding bangsa eropa tentang ilmu pengetahuannya. Sehingga bangsa eropa lebih menjadi terhormat disbanding dengan bangsa pribumi sendiri. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan bahwa terjadi perbedaan atau pertentangan kelas antara bangsa eropa sebagai borjuis dan bangsa pribumi sebagai bangsa proletar.

“seorang eropa, eropa totok, telah membeli diriku dari orang tuaku.” Suarnya pahit mengandung dendam yang tak bakal tertebus dengan lima istana. “aku dibeli untuk dijadikan induk untuk anak-anaknya”(341)

Dalam kutipan di atas menunjukkan kalau dalam novel tersebut memang terdapat perbedaan kelas antara orang-orang eropa dengan orang pribumi. Orang eropa sebagai borjuis dan orang pribumi sebagai proletar sehingga orang pribumi yang kebanyakan gila harta mudah dipengaruhi dan mudah dibeli oleh orang eropa seperti harga dirinya atau bahkan anaknya untuk dijadikan gundik atau nyai. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan tentang perbedaan atau pertentangan kelas, yakni sebagai berikut:

“tak bisa mereka melihat pribumi tidak penyek terinjak-injak kakinya. Bagi mereka pribumi mesti salah, orang eropa harus bersih, jadi pribumipun sudah salah. Dilahirkan sebagai pribumi sudah lebih salah lagi. Kita menghadapi keaadaan yang lebih sulit minke anakku….”(413)

Dalam kutipan di atas menunjukkan adanya perbedaan kelas antara orang pribumi dengan orang eropa, orang eropa dikatakan bersih, sedangkan orang pribumi selalu salah dan akan diinjak sampai penyek. Orang eropa pada waktu itu mnenganggap dirinya paling benar dan paling terhormat. Dalam kutipan di bwah ini juga terdapat perbedaan atau pertentangan kelas yakni:

“mama ada di pihakmu, kata wanita itu, tapi di depan hukum kau tak bakal menang. Kau menghadapi orang eropa, Nyo. Sampai-sampai jaksa dan hakim akan mengeroyok kau, dan kau tak punya pengalaman pengadilan. Tidak semua pokrol dan advokat bisa dipercaya, apa lagi soallnya pribumi menggugat eropa. Tulisan itu jawab saja dengan tulisan. Tantang dia dengan tulisan juga”(414)

Kutipan di atas menunjukka adanya pertentangan kelas antara orang eropa dengan orang pribumi, dikatakan dalam novel tersebut kalau orang eropa akan menang, karena hakim dan jaksa tidak akan berpihak pada orang pribumi. Dia lebih berpihak pada orang eropa. Pertentangan kelas seperti di atas juga terdapat dalam kutipan di bawah ini:

“dan tuan di bawah kerajaan-kerajaan pribumi, rakyat tuan tidak pernah mendapatkan keamanan dan ketausaan, tidak mendapat perlindungan hokum, karena memang tidak ada hokum,. Kurang baik apa pemerintah hindia belanda? Orang-orang liberal itu memang mempunyai impian aneh tentang India…”(439)

Kutipan di atas menunjukkan adanya pertentangan kelas antara orang eropa dan orang pribumi. Di mana orang pribumi yang tidak di akui mempunyai hokum, berbeda dengan orang eropa yang dijunjung tinggi oleh hokum dinegeri ini. Kutipan di atas menunjukkan adanya perbedaan kelas, yakni sebagai berikut:

“para orang tua dan wali murid telah duduk berbanjar. Semua; totok, indo, beberapa orang tionghoa, dan tak pribumi barang seorangpun”(444)

Kutipan di atas menunjukkan adanya pertentangan kelas terutama dalam sekolah itu. Yang boleh sekolah disitu hanya orang-orang eropa dan skutunya. Sedangkan kaum pribumi tidak bisa sekolah di sana. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan pertentangan kelas dalam novel tersebut, yakni:

“apa yang kau sahayakan? Nenek moyangmu dulu, raja-raja jawa itu, semua menulis jawa. Malu kau kiranya kau jadi orang jawa? Malu kau tidak jadi belanda?”(461)

Kutipan di atas menunjukkan adanya pertentangan kelas. Betapa rendahnya pribumi di mata orang eropa. Mereka menganggap orang pribumi tidak punya sopan santun seperti orang eropa. Dalam kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya pertentangan atau perbedaan kelas yakni:

“…….dia bilang annelias mallemma berada di bwah hukum eropa, nyai tidak. Nyai hanya pribumi. Sekiranya dulu jurrof annelias mallemma tidak diakui tuan mallemma, dia pribumi dan pengdilan putih tidak punya sesuatu urusan”(488)

Kutipan di atas menunjukkan adanya pertentangan kelas. Kalau orang pribumi tidak diakui dan tidak mempunyai hokum yang jelas sehingga orang eropa dapat bertindak sewenang-wenang terhadap orang pribumi. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya perbedaan pertentangan kelas, yakni:

“akhir-akhirnya, katanya kemudian dengan suara rendah”persoalannya tetap eropa terhadap pribumi, minke, terhadap diriku. Ingat-ingat ini: eropa yang menelan pribumi sambil menyakiti secara sadis. E-ro-pa …. Hanya kulitnya yang putih” Ia mengumpat, hatinya bulu semata” (489)

Kutipan di atas menunjukkan adanya pertentangan kelas antara orang eropa dan orang pribumi. Dimana orang eropa selalu bertindak sewenang-wenang terhadap orang pribumi, dan sering menyakiti orang pribumi.

4.2 Realisme Sosialis Dilihat Dari Kedekatan Atau Pembelaan Kaum Borjuis Terhadap Kaum Proletar
Kaum proletar yang berkuasa atau selalu menjadi tuan atau majikan tidak selamanya membedakan diri atau memisahkan diri dari kaum borjuis yang selalu menjadi buruh pekerja. Hal itu terjadi dalam keluarga nyi ontosoroh dan annelias yang selalu dekat dan kerap membela hak pekerja. Hal tersebut dapat kita lihat dalam kutipan sebagai beikut:

“annelias mendekati mereka seorang demi seorang dan mereka memberikan tabik, tanpa bicara,hanya dengan isyarat….” (44)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa annelias dekat dengan para pekerja, dia tidak segan-segan menyapa para pekerjanya walau dia sendiri menjadi Tuan atau anak dari pemilik perusahaan itu. Hal tentang kedekatan antara kaum proletar dan kaum borjuis juga di buktikan dalam kutipan di bawah ini.

“Mereka boleh berlibur kalau suka. Mama dan aku tak pernah berlibur. Mereka pekerja harian”(45)

Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa seorang majikan seperti annelias dan mamanya memberi kebebasan pada pekerjanya untuk berlibur. Mereka tidak mengekang pekerjanya untuk bekerja terus. Kedekatan antara kaum borjuis dengan proletar juga ditunjukkan dalam kutipan di bawah ini:

“juga di sini terdapat pekerja-pekerja wanita. Hanya tidak berbaju kera. Orang-orang memberikan tabik dengan membungkuk dengan mengangkat tangan pada kami berdua. ….”(46)

Kutipan di atas menunjukkan kedekatan antara pekerja dengan annelias esbagai tuannya, mereka tidak segan-segan menyapa tuannya yang lewat dekat mereka. Dalam kutipan di bawah ini juga membuktikan kedekatan antara kaum proletar dan kaum borjuis.

“beberapa orang perempuan menahan annelias dan mengajaknya bicara, minta perhatian dan bantuan. Dan gadis luar biasa ini seperti seorang ibu melayani mereka dengan ramah……………“(54)

Kutipan di atas menunjukkan betapa baiknya annelias kepada semua masyarakat yang ada di sekitarnya. Meski dia sebagai tuan tanah dia masih tetap berhubungan dengan masyarakat sekitarnya. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan bahwa dalam novel tersebut terdapat kedekatan antara kaum borjuis dan kaum proletar.

“…….. kami berdua tak punya teman, tak punya sahabat. Hidup hanya sebagai majikan terhadap buruh dan sebagai taoke terhadap langganan, dikelilingi orang yang hanya semata karena urusan perusahaan, membikin aku tak bisa membanding-banding……”(113)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa betapa dekat dia dengan pekerjanya, dengan pelanggan-pelanggannya. Bahkan dia tidak tahu keadaan di luar karena dia terlalau sibuk berurusan dengan pelanggan atau dia terlalu sibuk atau lebih dekat dengan kaum buruh sebagai pekerjanya dengan dunia luar terutama masyarakatnya. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan terjadinya kedekatan antara kaum borjuis dengan kaum proletar.

“.pernah aku bertanya padanya, apa wanita eropa diajar sebagaimana aku diajar sekarang ini? Tahu kau jawabannya? “kau lebih mampu daripada rata-rata mereka, apalagi yang peranakan”’(134)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tuan mallema sebagai orang eropa dia tetap mengakui kalau nyi ontosoroh sebagai seorang pribumi memang lebih pintar dalam hal apapun di banding dengan wanita eropa lainnya apalagi dengan peranakan eropa. Hal ini juga terdapat dalam kutipan dibawah ini yakni kedekatan atau pembelaan kaum borjuis dengan kaum proletar, yakni:

“tak mungkin kau seperti wanita belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti yang sekaran. Biar begitu kau lebih cerdas dan lebih baik daripada mereka semua. Semua” ia tertawa mengakak”(136)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa tuan mallema telah membela kaum pribumi yakni nyi ontosoroh. Dia mengatakan bahwa Nyi Ontosoroh sebagai orang pribumi lebih pintar atau lebih cerdas daripada wanita eropa. Kedekatan atau pembelaan kaum borjuis terhadap kaum proletar juga terdapat dalam kutipan di bawah ini.

“nyai, kecuali baca tulis, semua sudah darsam kerjakan” ia bicara dalam bahasa madura. Aku tak menjawab. Aku tak pikirkan urusan perusahaan. Aku tetap bergolek diranjang memeluk bantal. “jangan nyai kuatir. Semua beres. Darsam ini, nyai percayalah padanya” ternyata dia memang bias dipercaya.”(149)

Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa darsam sebagai pengawal nyi ontosoroh sangat setia kepada nyai. Hal itu diseb abkan karena kedekatannya selama ini yang dilakukan oleh nyai kepada semua karyawan-karyawannya terutama darsam sebagai pengawal pribadinya sehingga darsam setia dan diberi kepercayaan oleh nyi onotosoroh. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan kedekatan atau pembelaan proletar terhadap borjuis.

““tidak. Sudah begitu banyak kesulitan Nyai karena anak dan tuannya. Darsam harus urus sendiri pekerjaan ini. Tuan muda sabar saja”(230).

Kutipan di atas menunjukkan kedekatan antara Nyi ontosoroh dan darsam sebagai pengawal pribadinya. Darsam melakukan itu semua agar nyi ontosoroh yang sebagai tuannya tidak terlalu banyak memikirkan masalah yang ditimbulkan oleh anak dan suaminya. Kutipan di bawah ini juga membuktikan kedekatan antara majikan dengan anak buahnya atau pembantunya.

“lagi pula ternyata Nyai bukan wanita sembarangan. Dia tyerpelajar, Jean. Aku kira wanita pribumi yang terpelajar yang pertama kali kutemui dalam hidupku. Mengagumkan jean. Lain kali akan kubawa kau ke sana, berkenalan. Kita akan bawa may. Dia akan senang di sana”(273)

Kutipan di atas menunjukkan pembelaan minke kalau tidak semua nyai berwatak hina dan rendah seperti yang diperkirakan orang lain. Dalam kutipan dibawah ini juga menunjukkan adanya kedekatan antara kaum borjuis dengan kaum proletar.

“…………dia perintahkan membunuhtuan muda? Dan aku bilang padanya: majikanku nayi dan noni; orang yang mereka sukai aku sukai; kalau sinyo menghendaki terbunuhnya tuan muda, sebaiknya sinyo sendiri yang kutebang; kau bukan majikanku; awas, aku cabut parang, dan dia lari…”(394)

Kutipan di atas menunjukkan kedekatan antara nyai dan noni terhadap pengawal pribadinya yakni darsam sehingga darsam setia dan patuh pada nyai dan noni. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya kedekatan antara majikan dan pembantu, yakni:

“mulai kapan nyai tidak percaya sama darsam? Ia seka kumisnya dengan punggung lengan”(397)

Kutipan di atas menunjukkan pembelaan darsam sebagai pengawal pribadi dari majikannya yakni Nyi Ontosoroh yang curiga terhadap tingkah laku darsam. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan pembelaan pegawai atau pembantu terhadap majikannya.

“sepanjang perjalanan magda peters berkicau tentang kebanggaannya punya seorang murid seperti aku. Dan aku sendiri merasa terbelai setelah pengalaman menggebu selama ini”(433)

Kutipan di atas adalah pembelaan bangsa eropa terhadap bangsa pribumi yang bangga kepada minke sebagai muridnya dari bangsa pribumi. Dia memuji minke sehingga dia merasa terbelai setelah cukup lama dia menghadapi pengalaman yang menggebu. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya kedekatanatau pembelaan terhadap orang-orang pribumi.

“sebagai upacara perpisahan tuan direktur menyerahkan padaku surat-surat dari Miriam dan sarah de la croix tanpa prangko”(436)


Kutipan di atas adalah pembelaan kum eropa yakni Miriam dan sarah de la croix yang membela minke. Dia memperotes pemecatan minke dan dia mengatakan kalau minke sebenarnya bukan harus di pecat tapi dibantu. Sehingga sekolah memanggil minke lagi untuk dimasukkan lagi dalam sekolah. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya kedekatan atau pembelaan antara kaum borjuis yakni orang-orang eropa terhadap orang pribumi.

“kami dinikahkan secara islam, darsam bertindak sebagai saksi dan sekaligus wali menurut hukum islam bagi annelias. Itu terjadi pada jam sembilan pagi tepat….”

Dalam kutipan di atas darsam yang selama ini menjadi pengawal pribadi dari nyai, dia di percaya menjadi saksi atau bahkan wali dari annelias, sungguh kepercayaan yang mungkin tidak akan dilupakan oleh darsam. Itu dilakukan nyai karena kedekatannya dengan pengawal pribadinya yakni darsam. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan kedekatan antara majikan dengan pesuruh, yakni:

“lukisan itu, ia menerangkan tak lain darigambar seorang pribumi yang memang luar biasa untuk jamannya, nyai ontosoroh, seorang wanita cerdas, ibu pengantin wanita dan mertua tuan minke.ia seorang pribadi yang cemerlang, seorang nahkoda yang tak bakal membiarkan kapalnya rusak di tengah pelayaran, apalagi tengelam”(469)

Kutipan di ats menunjukkn adanya pembelaan dari bangsa eropa terhadap nyi ontosoroh sebagai orang pribumi yang dianggap luar biasa oleh orang eropa.

4.3 Realisme Sosialis Dilihat Dari Perlawanan Kaum Proletar Kepada Borjuis
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, dia dibekali pikiran, perasaan, marah bahkan nafsu. Dengan modal itulah siapapun akan melawan terhadap ketertindasan yang dilakukan oleh sesama manusia, terutama kaum borjuis yang semena-mena menghina dan menginjak-injak kaum proletar yang umumnya adalah masyarakat pribumi. Hal tersebut dapat dilihat dalam novel bumi manusia, yakni perlawanan kaum proletar terhadap kaum borjuis. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini:

“sekarang sedang ada pesta besar,” kataku. Mengapa mereka tidak di beri libur”(45)

Dalam kutipan di atas menunjukkan bahwa kata “mereka “ adalah kaum buruh, dalam kutipan di atas menunjukkan pembelaan terhadap kaum buruh agar di beri kebebasan untuk libur. Minke yang mengatakan itu ingin membela kaum proletar agar juga di beri hari libur.Pembelaan atau perlawanan kelas kaum proletar dan kaum borjuis juga terdapat dalam kutipan di bawah in:

“dalam satu tahun telah dapat kukumpulkan lebih dari seratus golden. Kalau pada suatu kali tuan mallemma pergi pulang atau mengusir aku, aku sudah punya modal pergi ke Surabaya dan berdagang apa saja”(129)

Dalam kutipan di atas menunjukkan kepintaran dari sang nyai ontosoroh sebagai seorang pribumi, dia berbuat demikian sebagai perlawanan kepada tuan mallema apabila suatu saat dia diusir dia sudah siap karena dia sudah mempunyai modal yang cukup. Perlawanan kaum proletar terhadap kaum borjuis juga ditunjukkan dalam kutipan dibawah ini.


“ucapan yang hanya patut di dengar di rumah mallemma hammers dan anaknya” tangkisku dalam belanda”(145)

Kutipan di atas adalah kata-kata yang keluar dari Nyi Ontosoroh karena dia telah dihina oleh anak shah dari suaminya yakni tuan mallema. Di melakukan atau mengatakan itu karena dia sudah tidak kuat menahan hinaan yang diterimanya. Dia sebagai orang pribumi dihina oeh orang eropa. Oleh karena itu dia melawan kepada maurits mallema yang tak lain adalah anak sah dari tuan mallema. Di bawah ini juga terdapat bukti tentang perlawanan kaum proletar terhadap kaum bojuis atau orang eropa.

“pergi” raungku. Dia tetap tidak menggubris aku.”bikin kacau rumah tangga orang. Mengaku insinyur, sedikit kesopanan pun tak punya” (146)

Dalam kutipan di atas adalah perlawanan dari Nyi Ontosoroh yang mengusir orang eropa karena dia telah menginjak-nginjak harga dirinya hanya karena dia sebagai seorang nyai. Dia berani melawan maurits mallemma untuk keluar dari rumahnya karena kekurangajarannya terhadap keluraga Nyi Ontosoroh. Perlawanan orang pribumi yang digambarkan sebagai kaum proletar terhadap orang eropa yang juga digambarkan sebagai kaum borjuis juga terdapat dalam kutipan di bawah ini.

“jadi begitu macamnya anak dan istrimu yang syah” raungku pada tuan. “begitu macamnya peradaban eropa yang kau ajarkan padaku berbelas tahun? Kau agungkan setinggi langit? Siang dan malam? Menyelidiki pedalaman rumah tangga orang, menghina, untuk pada suatu kali dating memeras? Memeras? Apalagi kalau bukan memeras? Untuk apa menyelidiki urusan orang lain?”(147)

Kutipan di atas menunjukkan perlawanan Nyi Ontiosoroh sebagai orang pribumi dia melawan kepada orang eropa yakni suaminya sendiri,karena anaknya yang dating sudah menghancurkan rumah tangganya. Dia mengatakan kalau kesopanan orang eropa yang selama in diagung-agunkan ternyata hanya untuk memeras. Kutipan dibawah ini juga menunjukkan adanya perlawanan orang pribumi terhadap orang eropa.

“kau memang sudah bukan jawa lagi. Dididik belanda jadi belanda, belada coklat semacam ini. Barangkali kaupun sudaqh masuk Kristen”(193)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa ibunda dari minke mengigatkan minke agar jangan sampai terpengaruh kepada budaya belanda atau jangan sampai pindah agama menjadi agama Kristen seperti yang di anut orang belanda. Hal itu dilakukan untuk membela anaknya agar tidak tejerumus pada kebudayaan belanda. Anaknya sebagai orang jawa diingatkan agar tidak lupa terhadap budaya jawa. Kutipan dibawah ini juga menunjukkan adanya pembelaan antara orang pribumi terhadap orang eropa.

“lagu kebangsaan belanda, willbelmus, dinyanyikan. Orang berdiri. Sangat sedikit yang ikut menyanyi. Sebagian terbesar memang tidak bias. Pribumi hanya seorang dua. Yang lain-lain hanya bias terlongok-longok mungkin sedang menyumpahi melodi yang asing dan mengganggu persaan itu”(199)

Kutipan di atas menunjkkan bahwa orang pribumi tidak suka terhadap lagu kebangsaan belanda yang dinyanyikan. Oleh karena itu banyak orang yang menyumpahi lagu itu yang mengganggu telinga. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan tentang perlawanan kaum borjuis, seperti:

“tapi daerah loteng ini tempat larangan kecuali untuk mama dan kau. Kan ketentuan itu harus juga dihormati?” dan masih barnag dua puluh kalimat lagi kuucapkan”(333)

Kutipan di atas menunjukkan adanya perlawanan antara minke sebagai seorang pribumi kepada annelias sebagai seorang bangsa eropa. Minke menolak untuk tinggal diloteng, di mana tempat itu adalah larangan untuk semua orang agar ti9dak boleh masuk ke sana kecuali Nyai dan annelias. Kutipan dibawah ini juga menunjukkan perlawanan atau pembelaan bangsa pribumi terhadap bangsa eropa.

“seperti dongeng seribusatu malam. Coba, ia merasa lebih tepat di panggil Nyai. Aku kira hanya untuk membenarkan dendamnya. Memang Nyai sebutan pribumi lebih tepat untuk gundik seorang bukan pribumi. Dia tidak suka diberlakukan , manis-manis. Dia tetaap mengukuhi tentang keadaan dirinya-dengan kebesaran ditaburi dendam”(346)

Dalam kutipan di atas menunjukkan adanya perlawanan Nyai yang bersikukuh kalau dia lebih tepat dipanggil seorang Nyai. Dia tidak suka diberlakukan manis-manis seperti umunya seorang wanita eropa. Dia tetap mengukuhi keadaan dirinya sebagai seorang nyai hanya untuk membenarkan dendamnya. Kutipan dibawah ini juga menunjukkan adanya perlawanan antara kaum borjuis dan proletar.

“tapi mama bukan pembenci eropa. Dia banyak urusan dengan orang eropa, malah dengan orang-orang ahli, seperti tuan sendiri. Dia malah membacai pustaka eropa”(371)

Dalam kutipan di atas menunjukkan terjadinya pembelaan minke terahadap mamanya yaitu nyai ontosoroh yang orang pribumi atau sebagai kaum proletar yang dikatakan memebnci eropa. Padahal pada kenyataannya Nyai ontosoroh tidak membenci orang eropa, bahkan dia berurusan dengan orang eropa atau dia sering baca pustaka eropa. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya perlawanan antara orang pribumi dengan orang eropa.

“ya, waktu mulai jadi sinting juga, sambung nyai, juga seperti pertama kali tuan jadi begitu. Jangan mendekat ann, jangan”(403)

Dalam kutipan di atas menunjukkan perlawanan Nyi ontosoroh yang maasih menaruh rasa benci kepada tuan mallemma sehingga untuk dekat dan menyentuhpun di tidak mau meski tuan mallemma sudah mati. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan adanya perlawanan antara orang pribumi dengan orang eropa, yakni sebagai berikut:

“cuti seminggu dari sekolah kupergunakan untuk menulis, membantah berita-berita tak benar dan bersirat……”(409)

Kutipan di atas adalah pembelaan dari minke kalau dia tidak bersalah dalam pebunuhan itu. Dalam kutipan di bawah ini juga menunjkkan adanya pembelaan yakni sebagai berikut:

“siapa yang menjadikan aku gundik? Siapa yang membikin mereka menjadi nyai-nyai? Tuan-tuan bangsa eropa, yang dipertuankan. Mengapa di forum resmi kami ditertawakan? Dihinankan? Apa tuan-tuan menghendaki anakku juga jadi gundik?”(427)

Dalam kutipan di atas menunjukkan adanya pembelaan antara nyai sebagai orang pribumi terhadap forum resmi yakni persidangan yang lebih memihak kepada orang-orang eropa, lebih membela orang eropa. Sehingga Nyai melawan dengan mengeluarkan kata-kata seperti kutipan di atas. Kutipan yang melambangkan perlawanan kaum pribumi juga terdapat dalam kutipan di bawah ini:

“biarpun tnapa ahli hokum. Kita akan jadi pribumi pertama yang akan melawan pengadilan putih, nak, Nyo. Bukankah itu suatu kehormatan juga”(494)

Dalam kutipan di atas adalah upaya pribumi yang akan melawan pengadilan putih yang merupakan tempat pengadilan orang eropa dan tentu saja pengadilan putih itu akan lebih berpihak pada eropa. Kutipan di bawah ini juga menunjukkan perlawanan antara kaum pribumi dengan orang eropa.

“keputusan pengadilan Surabaya menerbitkan amarah banyak orang dan golongan. Serombongan orang madura, bersenjata parang dan sabit besar, clurit, telah mengepung rumah kami, menyerang orang eropa dan hamba negerinya yang berusaha memasuki pelataran kami”(511)

Kutipan di atas jelas merupakan perlawanan orang pribumi terhadap orang eropa. Mereka marah setelah selama ini harga diri mereka di injak-injak. Mereka bertarung tanpa mempunyai perasaan taku lagi.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer merupakan novel sebagai periode penyamaian dan kegelisahan di mana minke sebagai actor sekaligus creator adalah manusia berdarah priyayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong kejawaannya menuju manusia yang bebas merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke-eropa-an yang menjadi symbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Berdasarkan analisis data di atas maka kami sebagai penulis dapat menyimpulkan bahwa realisme sosialis dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer yakni bisa dilihat menjadi:
1. Realisme sosialis dilihat dari segi pertentangan kelas pada novel bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer yakni sebanyak 46,55 %
2. Realisme Sosialis Dilihat Dari Kedekatan Atau Pembelaan Kaum Borjuis Terhadap Kaum Proletar yakni sebanyak 27,59 %
3. Realisme Sosialis Dilihat Dari Perlawanan Kaum Proletar Kepada Borjuis yakni sebanyak 25,86 %
Demikian kesimpulan kami, semoga bisa menjadi acuan yang berguna baik bagi manusia yang kini tinggal dalam bumi manusia. Apabila ada kesalahan baik dalam penulisan atau yang lainnya kami selaku penulis mohon maaf tiada batasnya. Sekian dan terima kasih.

Kritik Mimeisis Pada Novel Gerhana Kembar Karya Clara Ng

KRITIK MIMEISIS PADA NOVEL GERHANA KEMBAR KARYA CLARA NG
(Tugas Diajukan Untuk Memeroleh Nilai Tugas UAS Semester Genap)

Oleh:
Iwan Sugianto
(2006210002)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DR. SOETOMO
SURABAYA
2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kritik sastra merupakan salah satu studi sastra yang meliputi tiga bidang yaitu; teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Kritik satra merupakan studi sastra yang langsung berhadapan dengan dunia sastra, secara langsung membicarakan karya satra dengan penekanan pada penilaiannya (wellek dalam pradopo, 92:2003).
Karya sastra iciptkan oleh sastrawan untuk dinikmati, dipahami, dan dimamfaatkan oleh masyarakat, sastrawan sendiri merupakan anggota masyarakat; ia terikat oleh status social tertentu. Sastra adalah lembaga social yang menggunakan bahasa sebagai medium; bahasa itu sendirimerupakan ciptaan social. Sastra menampikan gambaran kehidupan; dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan social. Kehidupan mencakup hubungan antar masyarakat, antar manusia, dan antar peristiwa yang terjadi antar batin sesorang. Bagaimanapun juga peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam batin seseorang, yang sering menjadi bahan sastra adalah pantulan antara hubungan sesorang dengan orang lain atau masyarakat.
Banyak karya sastra yang dilahirkan melalui cara kepengarangannya itu sendiri, dalam perjalanan sastra banyak satrawan yang mengangkat tema-tema yang sesuai dengan kehidupan sosialnya. Tentu saja perkembangan sastra Indonesia banyak dipelopori oleh sastrawan dalam rangka menuju sastrawanb yang mapan.

1.2 Rumusan Masalah
Bedasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah yang kami ajukan adalah sebagai berikut
1. Apa yang dimaksud dengan teori mimesis itu sendiri?
2. Siapa tokoh dan apa isi dari teorinya?
3. Unsur apa saja yang terdapat dalam novel gerhana kembar karya clara NG bila kita analisis dengan menggunakan kritik mimesis?
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka kami memunyai tujuan sebagai berikut.
1. Untuk mendiskripsikan apa yang dimaksud dengan mimesis
2. Untuk mengetahui siapa tokoh dan isi dari teorinya
3. Untuk mendiskripsikan unsure apa saja yang terdapat dalam novel gerhana kembar karya clara NG bila kita analisis dengan menggunakan kritik mimesis
1.4 Batasan Masalah
Dalam makalah ini kami selaku penulis memberi batasan masalah berupa analisis novel yang dilihat dari teori mimeisis. Yakni pada novel Gerhana Kembar Karya Clara NG


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Teori Mimesis dalam Kritik Sastra.
Berdasarkan pendekatannya terhadap karya sastra, kritik sastra itu dapat pula digolongkan ke dalam empat jenis yakni kritik mimetic, kritik pragmatic, kritik ekspresif, dan kritik objektif.
Sedangkan kritik mimesis itu sendiri adalah kritik yang bertolak pada pandangan bahwa karya sastra merupakan sesuatu tiruan atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu kritk satra mimetic cendrung untuk mengukur kemampuan suatu karya sastra menangkap gambaran kehidupan yang dijadikan sebagai objek.
2.2 Tokoh dan Ajaran Teori Mimesis
Salah satu dokumen tertulis yang memuat teori social sastra adalah karya plato, seorang filsuf yunani yang hidup di abad kelima dan keempat masehi. Sebenarnya karangan plato itu tidak secara khusus memasalahkan sastra; republic terutama ditulis untuk menggambarkan tentang masyarakat yang diidam-idamkan itu, plato menyinggung peran sastra dalam masyarakat.
Pada intinya dalam bukunya plato membicarakan:
a. masalah karya sastra sebagai karya tiruan dari kenyataan.
Menurut palto semua yang ada di dunia ini hanyalah sebuah tiruan dari kenyataan tertinggi yang berada di dunia gagasan. Penyair yang menggambarkan tentang pohon misalnya tidak dapat langsung membuat tiruan pohon yang berada di dunia gagasan; ia hanya dapat meniru pohon yang ada di dunia ini.
Dengan kata lain plato mengatakan bahwa puisi membawa manusia semakin jauh dari kenyataan tertinggi. Secara tersirat di katakana bahwa sebenarnya pohon lebih dekat dengan kenyataan tertinggi dibanding sajak tentang pohon. Nilai sajak itu tentunya nilanya jauh lebih rendah disbanding dengan pohon, sebab justru semakin menjauhkan manusia dari kenyataan tertinggi.
b. Tiga seniman
Dalam teorinya juga disebutkan ada tiga seniman yakni, pengguna, pembuat, dan peniru.dari urutan tersebut sudah jelas bahwa yang tertinggi nilainya menurut plato adalah pengguna, yang nomor dua adalah pembuat, dan yang nomor tiga peniru.
c. Pentingnya sastra bagi pendidikan anak
Pada zaman plato puisi memegang peranan penting dalam dunia pendidikan. Plato beranggapan bahwa cerita-cerita yang beredar di masyarakat harus disensor terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada anak-anak. Plato beranggapan bahwa anak belum bias membedakan yang alegoris dari yang bukan.
d. Warga republic harus lebih banyak mengunakan akal sehat daripada persaan.
Plato berkeyakinan bahwa setiap warga republic yang diidamkannya harus lebih banyak menggunakan poikiran sehatnya dan bukan perasaan. Puisi menyuburkan dan mendengarkan perasaan. Puisi menyuburkan perasaan dan mengeringkan akal sehat. Lebih baik menjadi yang ditiru dari pada menciptakan barang tiruan, lebih baik melakukan tindak kepahlawanan daripada hanya mengambarkan tindak tersebut.
Selanjutnya tentang peniruan itu sendiri plato mengemukakan indicator-indikator yang melingkupinya, yakni:
1. tataran tentang ada
Menurut plot ada beberapa tataran tentang ada yang masing-masing mencoba melhirkan nilai-nilai yang mengatasi tatarannya. Tataran yang pertama adalah tataran yang abadi, dan tataran yang kedua adalah dunia empiric.
2. terikat pada aide pendekatan
Bagi plato mimesis terika tpada dunia pendekatan, tidak menghasilkan kopi yang sungguh-sungguh; lewat mimesis tataran yang lebih tinggi hanya dapat disarankan. Dalam rangka ini menurut plato mimesis atau sarana artistic tidak meungkin mengacu langsung pada nilai-nilai ideal, karena seni terpisah pada tataran Ada yang sungguh-sungguh oleh derajat dunia kenyataan yang fenomenal.
3. tidak ada pertentangan antar realisme dan idealisme
bagi plato tidak ada pertentangan antar realisme dan idealisme dalam seni: seni yang terbaik lewat mimesis, peneladanan suatu kenyataan dalam mengungkapkan makna hakiki kenyataan itu. Dari segi ini kepandaian seorang tukang malahan dapat dinilai lebih tinggi dari seniman, sebab tukang yang baik pada prinsipnya lebih efisien meniru ide yang mutlak dalam benda-benda yang diciptakannya dari pada seniman.

BAB III
ANALISIS DATA

Dalam novel Gerhana Kembar Karya Clara NG terdapat beberapa unsure apabila kita kaji melalui kritik mimetic, yakni:
Dalam hidup banyak yang terkadang melupakan kisah hidup kita, namun banyak juga yang kisah-kisah selama mereka masih muda, mereka utarakan ke tulisan sehingga bias berupa cerita atau naskah. Dalam novel tersebut terdapat hal yang sama.
Hal ini dapat dibuktikan dalam novel karya clara ng yang menceritakan seorang cucu yang menemukan naskah neneknya yang berjudul gerhana kembar terdiri dari prolog, bab 1 sampai bab 11, dan diakhiri dengan epilog, yang akhirnya tahu siapa neneknya dulu.
1. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan Yakni Betapa Pedulinya Masyarakat atau Seseorang Terhadap Dunia Pendidikan
Dalam novel Gerhana Kembar karya Clara NG terdapat cerita yang menggambarkan kehidupan nyata atau sesuai dengan kenyataan yang terjadi dalam hidup yang kita jalani yakni seseorang yang perduli terhadap dunia pendidikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan sebagai berikut:
“seperti magnet bertemu dengan besi, satu persatu murid fola berjalan kearah penjemputnya masing-masing. Fola melepas mereka dengan mata awas, mengamati apabila ada wajah-wajah asing yang belum pernah dia temui.”(15)

Dalam kutipan di atas fola yang sebagai seorang guru anak taman kanak-kanak yang selalu peduli terhadap dunia pendidikan. Dia sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya dan juga terhadap anak didiknya.

“henrita mendengus mencemooh. “tentu saja kau piker aku main-main? Apa susahnya mengecat dinding ? kita beli saja cat dan kuas. Anggap saja melukis di kain kanfas yang luas.”(63)

Dalam kutipan di atas menyatakan kesanggupan henrita salah satu tante dari murid fola menyatakan kesanggupannya untuk mengecat dindinng sekolah yang sudah mulai kusam.
2. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan Yakni Kelainan Seksualitas
Dalam dunia yang kita jalani banyak penyimpangan-penyimpangan yang sering kita temui, terutama dalam hal seksualitas. Jika manusia normal mencintai lawan jenis, maka ada pula yang mencintai sesame jenis seperti kaum gay dan lesbi. Di dalam novel Gerhana Kembar karya Clara NG di ceritakan tentang kisah neneknya waktu muda yang ditulis dalam sebuah naskah yang akhirnya lendy tahu kalau neneknya adalah seorang lesbian. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan sebagai berikut:
“henrita menarik tangan fola. Gadis itu berputar, lalu berlari cepat, tangannya digenggam erat-erat oleh henrita. Fola berusaha menenangkan pikirannya selama berlari, tai jantungnya mulai berdebar menjadi dua kali lebih kuat. Fola sangat menyukai sentuhan tangan itu….”(52)

Pada kutipan di atas sudah jelas bahwa fola menyukai tangannya dipegang oleh henrita yang sama-sama seorang wanita.
“lalu tiba-tiba henrita mengulurkan tangannya kedepan, melingkari tangannya tepat pada bahu fola, memeluk erat dam mencium rambut fola tepat di ubun-ubun. Ini berupa gerakan spontan daripada ciuman lembut penuh kasih sayang…….. Ketika fola nyaris berteriak ketika mendapatkan serbuan ini, gerakan henrita melambat. Dengan lembut henrita mengusapkan bibir fola, menciumnya dengan ringan dan santai.”(70)

Kutipan di atas menggambarkan dua waita yang saling menikmati sentuhan ssama jenis atau sedang menikmati ciuman dari seorang yang sesama jenis.
“wajah fola memerah malu-malu. Dia pasrah. Lagi pula, henrita henrita sudah melihat sebagian dadanya ketika dia menyusui elisa tadi. Tidak ada bedanya sekarang maupun tadi, henrita memebuka kancing blus fola satu persatu. Gerakannya lembut, seakan-akan ini adalah kegiatan terpenting dalam di dunia……… Henrita menekan tubuhnya penuh-penuh kepada fola. Fola menutup mata. Dia membiarkan tangannya bergeraka berdasarkan naluri. Dia membiarkan pinggulnya terangkat, mulutnya mendesah, dan seluruh tubuhnya beraksi terhadap semua sentuhan”(183)

Pada kutipan di atas adalah bagaimana dua wanita yang saling terangsang sehingga tubuh kedua wanita itu saling rapat dan sama-sama menyerahkan tubuhnya kepada pasangannya.
3. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan Yakni Rasa Kasih Sayang dalam Keluarga
Kasih sayang sering kita lihat baik antar suami dan istri, anak dan orang tua atau nenek dengan cucu. Dalam novel Gerhana Kembar Karya Clara NG juga terdapat kasih saying antara cucu dan seorang neneknya yang lagi terbaring sakit di rumah sakit karena penyakit kangker yang dideritanya. Hal ini di buktikan dengan kutipan sebagai berikut:
“lendy terpaku menatap Diana, neneknya, yang berbaring damai, tertidur akibat zat zedatif yang diberikan dokter. Sekarat akibat kangker, ingatan neneknya berangsur-angsur hilang. Pandangannya melayang, tak tentu arah. Selama di rumahsakit ini, eliza namanya, sering kali tidak tidur. Ia duduk disamping Diana, hanya memegangi tangannya.”(19)

Dalam kutipan di atas terdapat unsure rsa kasih saying yang dicurahkan oleh seorang cucunya kepada neneknya yang lagi terbaring sakit dirumah sakit gara-gara kangker yang dideritanya.
“fola menarik tangan henrita seakan menyelamatkannya agar tidak jatuh melayang. “kalau begitu, mari aku buktikan dari sini.” Fola mendekatkan diri ke telinga henrita dan berbisik, “aku akan mengajukan perceraian dengan Erwin, setelah itu kita….””(218)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa fola yang sudah mempunyai suami dan anak rela akan meninggalokan suaminya demi seorang yang juga wanita, dan fola lebih mencintainya yakni henrita, dan mereka saling menyayangi.
“lendy berdiri, memeluk Philip erat-erat. Mereka berdiri di samping meja, di tengah-tengah restoran siap saji sambil berpelukan. Lendy tahu dia akan selalu merindukan lelaki yang sangat baik hati ini. Lelaki yang membawa sebagaian jiwanya tertinggal di Jakarta. Lelaki yang juga meninggalkan sepotong hatinya memenuhi hati lendy”(271)

Pada kutipan di atas menggambarkan bahwa lendy sayang dan cinta terhadap Philip yang merupakan tunangannya. Lendi akan selalu merindukan Philip karena dia sudah terlanjur sayang dan cinta kepada Philip.
“di tengah bandara yang besar dan super sibuk itu, lendy akhirnya memutuskan untuk pergi ke hotel dulu, mandi, kemudian baru berangkat mencari selina”(272)

Pada kutipan di atas lendy meninggalkan Jakarta hanya untuk mencari selina yakni tante henrita kekasih neneknya dulu, dia ingin memepertemukan sepasang kekasih mungkin yang terakhir kalinya, karena sekarang neneknya sekarat dirumah sakit, henrita sangat menyayangi neneknya, sehingga dia rela mencari selina di paris hanya untuk membahagiakan neneknya yang terakhir kali.
4. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan Bahwa Tiap Manusia Pasti akan Mengalami Rasa Sakit.
Bumi berrputar setiap hari, mengelilingi matahri, sehingga waktu juga ikut berjalan dan umurpun bertambah. Semakin lama kita sebagai manusia biasa umur kita akan bertambah. Dalam dunia ini kita sebagai manusia tidak akan bisa menghinndari yang namanya penyakit. Hal ini juga di ceritakan dalan novel Gerhana Kembar Karya Clara NG. Hal ini dapat dibuktikan dengan kutipan di bawah ini.
“lendy terbaring menatap Diana, neneknya, yang berbaring damai, tertidur akibat zat zedatuf yang diberikan dokter. Sekarat akibat kangker, ingatan neneknya berangsur-angsur hilang.”(19)

Dalam kutipan di atas Diana yang merupakan nenek lendy terbaring karena sakit kangker yang dideritanya.
“kangker……” bisik Erwin parau.
Fola berdiri tegak lurus,telinganya tidak sanggup mencerna apa yang didengarnya”(291)

Pada kutipan di atas Erwin mengatakan pada istrinya fola kalau dirinya terkena sakit kangker.

BAB IV
KESIMPULAN

Dari hasil analisis novel yang berjudul Gerhana Kembar karya Clara NG maka kami dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Novel yang berjudul Gerhana Kembar karya Clara NG terdapat beberapa unsure jika kita analisis melalui kritik mimesis, yakni:
a. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan yakni Setiap Manusia Kemungkinan Besar akan Menulis Kenang-Kenangan Pribadinya dalam Sebuah Diare atau Naskah
b. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan Yakni Kelainan Seksualitas
c. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan Yakni Rasa Kasih Sayang dalam Keluarga
d. Unsure Kenyataan Seperti yang Terjadi dalam Kehidupan Bahwa Tiap Manusia Pasti akan Mengalami Rasa Sakit.
2. Novel yang berjudul Gerhana Kembar Karya Clara NG memberikan pesan bahwa kita hidup di dunia initidak ssesederhana apa yang kita bayangkan
3. Novel yang berjudul Gerhana Kembar karya Clara NG memberikan pesan bahwa segala sesuatu pasti akan tercapai jika kita mau berusaha

DAFTAR PUSTAKA

NG, Clara. 2007. Gerhana Kembar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra: Sebuah Pemahaman Awal. Malang: UMM Press
Semi, Atar. 1997. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa

Rangkuman Psikolinguistik : Suatu Pengantar (Samsunuwati)

TUGAS PSIKOLINGUISTIK
(Tugas Diajukan Untuk Memeroleh Nilai Tugas Psikolinguistik)
PSIKOLINGUISTIK : SUATU PENGANTAR
(Samsunuwati)

Oleh :
Iwan Sugianto
2006210002
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DR. SOETOMO
SURABAYA
2008

1. Aliran Idealisme
Salah seorang tokoh aliran idealisme yang terkenal adalah Humbold. Ia sangat menaruh perhatian pada buku “Volker Psychologie” terutama mengenai aspek antropologi dan linguistiknya, dan mencoba membuat suatu teori tentang bahasa dan aspek-aspeknya.

2. Aliran Empirisme
Karya dibidang linguistik yang bersifat empiris yang pertama adalah dari Jacob Grimm, seorang linguis yang bekerja di Jerman pada permulaan abad ke-19. ia mempunyai pandangan yang empiristik dan tertarik pada segi fonologi.
W. Wundt
Mengenai inner language form, wundt membedakan secara jelas dua aspek sebagai berikut:
a. Aspek Linguistik (morfologi dan sintaksis)
b. Aspek dasar (aspek yang mendaari aspek linguistik)
Ferdinand De Soussure
Ferdinand de soussure adalah tokoh yang paling penting dalam linguistik. Dia adalah seorang pengajar pada Universitas Leipzig. Seorang linguistik yang memperkenalkan gagasan-gagasan yang masih dianggap penting dewasa ini.

C. TRADISI EROPA
Menjelang Perang Dunia II, kira-kira tahun 1938, psikologuistik menghilang dari percaturan ilmu di Eropa.

D. ALIRAN BEHAVIORISM
1. Linguistik di Amerika
Pada tahun 1933 Bloomfield mengarang buku baru yang berjudul ‘Language’. Meskipun setuju dengan pentingnya penggunaan teori S-R (Stimulus response) untuk menjelaskan tingkah laku manusia, namun ia tidak mempergunakan dasar-dasar prikologi bahasa menurut teori S-R dalam membahas bahasa.

2. Psikologi di Amerika
Watson, Wiss dan C. Norris (murid Pierce) adalah tokoh behaviorist di Amerika yang besar pengaruhnya terhadap C. Hull, seorang pencetus teori mediasi (Mediational Theory). C. Osgood, seorang murid Hull telah meluaskan teori mediasi dari Hull dalam usahanya untuk menjelaskan gejala bahasa.

E. AETIFICIAL INTELLIGENCE
Artificial intelligence adalah bagian dari ilmu komputer yang telah berkembang sejak tahun 50-an.

F. COMPETENCE DAN PERFORMANCE
Noom – Chomsky telah membedakan antara competence dengan performance. Competence adalah kapasitas kreatif dari pemakaian bahasa. Sedangkan yang dimaksud dengan performance adalah penggunaan bahasa secara aktual yang meliputi mendengarkan, berbicara, berpikir dan menulis.

G. STRUKTUR, FUNGSI DAN PROSES
1. Struktur Bahasa
Struktur bahasa adalah suatu sistem dimana unsur-unsur bahasa diatur dan dihubungkan satu dengan yang lain (Bloom dan Lahey, 1978, hlm. 132).
2. Fungsi Bahasa
Fungsi bahasa adalah alasan-alasan mengenai seorang berbicara. Ada dua macam fungsi bahasa yaitu:
a. Fungsi bahasa yang bersifat intrapersonal (mathetik)
b. Fungsi bahasa yang bersifat interpersonal (progmatik),
3. Proses Bahasa
Proses bahasa adalah suatu deskripsi tentang alat-alat, materi dan prosedur yang ada dalam mental kita yang dipergunakan manusia untuk memproduksi dan mengerti bahasa.


H. STRUKTUR BAHASA
Struktur bahasa menyangkut beberapa bidang yaitu : bidang semantik, bidang sintaksis, bidang morfologi dan bidang fonologi.
1. Bidang Semantik
Semantik adalah studi mengenai “arti” suatu perkataan atau kalimat.
2. Bidang Sintaksis
Sintaksis adalah bagian dari tata basa yang mempelajari dasar-dasar dan proses – proses pembentukan kalimat dalam suatu bahasa (Gorys keraf, 1982).
3. Bidang Morfologi
Morfologi ialah ilmu yang membicarakan morfem serta bagaimana morfem itu dibentuk menjadi kata (Yus Badudu, 1976).
4. Bidang Fonologi
Fonologi merupakan salah satu bagian dari tata bahasa, yaitu bagian yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa pada umumnya (G. keraf)

BAB II
PSIKOLINGUISTIK UMUM
Pada Bab II ini, kita akan membahas fungsi bahasa dan proses berbahasa pada orang dewasa, yang merupakan bagian dari psikolinguistik Umum karena menyangkut persepsi orang dewasa tentang bahasa dan bagaimana ia memproduksi bahasa.


A. FUNGSI BAHASA
Untuk menjelaskan hal itu, perlu dijelaskan terlebih dahulu tiga aspek penting dari fungsi bahasa, yakni:
• Speech Act
• Propositional Content
• Thematic Structure


1. Speech Act
Pada waktu seseorang berbicara, ia sebenarnya memperlihatkan suatu speech act tertentu yang dapat berupa action meminta, meyakinkan, berjanji, menyuruh dan lain-lainnya.
2. Propositional Content
Thematic Structure adalah penilaian tentang keadaan mental (mental state) pendengar pada saat seseorang berbicara.
3. Thematic Structure
Kalimat itu mempunyai fungsi memperinci ide-ide yang menjadi kerangka speech act. Ide-ide ini sering pula disebut sebagai ideational content dari sebuah kalimat atau dalam ilmu psikolinguistik disebut propositional content).

B. PROSES BERBAHASA
1. Mengenal bunyi-bunyi (the speech recognizer)
Sistem ini berfungsi untuk mengenal bunyi-bunyi yang diucapkan manusia sebagai suatu bahasa tertentu.
2. Analisis Kalimat atau parser
Fungsi analisis kalimat adalah untuk menganalisis struktur kalimat. Dalam hal ini ia harus mendeteksi bagaimana haisl roses kerjasama antara tiga sistem dalam CPU (Central processing Unit).
3. Sistem Konseptual (The Conceptual System)
Sistem konseptual merupakan inti dari penggunaan bahasa oleh manusia, oleh karena proses berpikir yang mendasari tingkah laku manusia seperti problem solving (pemecahan masalah), membuat keputusan (decision making), penggunaan bahasa dan lain-lain terdapat dalam sistem konseptual.
4. Generator Kalimat (The sentence Generator)
Sesudah struktur konseptual terbentuk pada seseorang, kini tinggal bagaimana mengekspresikan nya ke dalam bahasa ucapan. Tugas ini menjadi tanggungjawab generator kalimat.


5. Artikulator
Sistem ini berfungsi untuk mengucapkan kata-kata. Artikulatorbertugas menyampaikan susunan yang dibentuk oleh generator kalimat kepada bagian artikulais.
6. Leksikon
Lesikon mental meliputi semua pengetahuan yang dipunyai pemakai bahasa, yang berhubungan dengan akta-kata dalam khasanah perbendaharaan kata atau dengan akta lain arti akta-kata, ciri-ciri morfologi, ciri-ciri sintaksis, cara mengucapan, cara mengeja (Kempen, 1981, hlm. 16).





BAB III
PSIKOLINGUISTIK PERKEMBANGAN

A. PERKEMBANGAN FONOLOGI
Bayi yang berumur 3 hingga 4 bulan mulai memproduksi bunyi-bunyian. Pada usia antara 5 dan 6 bulan ia mulai mengoceh.
Pada pertengahan tahun pertama, anak-anak mulai membedakan bunyi-bunyi (Ervin Tripo, 1970) dan selanjutnya dikatakan bahwa persepsi (speech perception) kelihatannya tergantung pada interaksi anak dengan lingkungannya.

B. PERKEMBANGAN SEMANTIK
Dalam usahanya ini, mereka mulai dengan dua asumsi mengenai fungsi dan isi dari suatu bahasa, yaitu:
(1) Bahasa dipergunakan untuk komunikasi
(2) Bahasa mempunyai arti dalam suatu konteks tertentu

C. PERKEMBANGAN SINTAKSIS
Dalam perkembangan sintaksis bahasa Inggris, urutan kata penting karang mula-mula belum ada infleksi, sehingga si anak dalam struktur sintaksisnya bersandar pada urutan kata. Demikian juga dalam bahasa Rusia dan Jerman, sedangkan di Indonesia belum diketahui.

D. PERKEMBANGAN MORFOLOGI
Menurut Schaerlaekens (1977), diferensiasi morfologi itu meliputi tiga hal penting yaitu
• Pembentukan aktajamak
• Pembentukan diminutiesuffix (verkleinwood).
Contoh: jurk (rok orang dewasa)  jurkje (rok anak)
• Perubahan kata kerja
Dalam Bahasa Indonesia, belum diketahui bagaimana perkembangan morfologi pada bahasa anak karena belum ada penelitian di bidang s tersebut.

E. PERKEMBANGAN KONSEPTUAL
Secara garis besar, hal-hal yang perlu dan harus dipelajari seorang anak sebelum ia dapat mengucapkan kalimat adalah:
• Kata benda (nama benda) dan Konsistensi obyek
• Kejadian-kejadian (events)
• Skema aksi (action schemes)
• Kausalitas
Setelah seorang anak mengerti keempat hal terebut diatas berarti ia siap untuk mengaktifkan atau mengekspresikan skema aksi yang ada dalam alam pikirannya disampaikan melalui kalimat-kalimat.
1. Konseptualisasi
2. Psikologi kognitif
3. Psikologi kognitif

F. PERKEMBANGAN BAHASA ANAK
Sejarah studi bahasa anak dibagi dalam dua periode, yaitu periode sebelum tahun 1960 dan sesudah 1960.

1. Studi Sebelum Tahun 1960
2. Studi Sesudah Tahun 1960



G. TUTURAN ANAK (CHILD SPEECH) MEKANISME PEROLEHAN BAHASA PADA ANAK-ANAK
1. Stage I
Tuturan anak pada stage I terdiri dari kalimat telegram dan pivot open grammar.
a. Kalimat telegram 9telegraphic speech)
Bown dan fraser (1963) mengungkapkan bahwa tuturan anak apa stage I, awalnya sangat mirip dengan kalimat telegram. Artinya, anak memformulasikan pesan (message) dengan car yang sependek mungkin seperti halnya orang dewasa mengirim telegram.
b. Privot Open Grammar
Mengenai Pivot pen Grammar telah dibahas pada bab II
2. Stage II
Tuturan anak pada stage II ini tertutup meliputi penguasaan penggunaan morfem imbuhan.

H. MEKANISME PEROLEHAN BAHASA PADA ANAK – ANAK
Dalam sejarah perkembangannya teori-teori psikolinguistik tentang perolehan bahasa pada anak-anak mulai meninggalkan kedua pendekatan tersebut secara murni dan menemukan suatu model baru dalam pendekatan yang lebih mempersoalkan bahasa dari segi prosesnya tanpa mengabaikan segi-segi posipositifnya.
3. Pandangan empiris yang murni / ekstrim
Inti pandangan empiris yang murni ini ialah language is a function of reinforcement. Orang tua mengajar anaknya berbicara dengan memberikan reinforcement (penguatan) terhadap tingkah laku verbal.
4. Pandangan aliran rasionalis murni / ekstrim
Dari sudut pandang aliran nasionalis, bahasa adalah suatu kemampuan yang khas dipunyai manusia. Selain itu, Chomsky dan kawan-kawan menganggap perolehan bahasa tidak diperoleh dengan cara induksi seperti diterangkan oleh aliran empiris, melainkan karena manusia secara biologis memang sudah diprogramkan (prepgrammed) untuk memperoleh bahasa.
5. Model Proses Atau Analisis Strategi (Strategy Analysis)
Pandangan yang terbaru mengenai perbedaan bahasa pada anak-anak ialah pandangan yang disebut model proses (process models) atau analisis strategi (strategy analysis).

I. PENGUKURAN KEMAMPUAN BAHASA PADA ANAK-ANAK
Ada beberapa macam tes untuk mengukur kemampuan berbahasa pada anak-anak. Pengukuran kemampuan berbahasa dan perkembangannya paling sedikit mempunyai tiga fungsi


BAB IV
PSIKOLINGUISTIK TERAPAN
Psikolinguistik terapan adalah aplikasi teori-teori linguistik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bab ini akan dibahas beberapa bidang terapan yang dianggap penting, yaitu yang menyangkut hal membaca, patologi bahasa, kedwibahasaan dan pengajaran bahasa asing.
A. Hal Membaca
Membaca adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan kita dewasa ini. Usaha disamping membaca dianggap penting untuk komunikasi, juga karena membaca berkaitan erat dengan menulis.


1. Membaca Untuk Mengerti Bunyi
Dalam initial reading, seorang anak harus belajar mengenal fenom kemudian menggabungkan (blending) beberapa fonem menjadi suatu suku kata atau kata
2. Membaca Untuk Mengerti Arti (Advanced Reading)
Apabila dalam suatu bahasa, penguapannya mendekati pengerjaannya (apabila bahasa itu mempunyai pengucapan fonem tetap), maka sistem alphabetic dapat digunakan, tetapi bilamana ada perbedaan antara pengucapan dan pengerjaan, maka sistem logographic sesuai untuk dipakai.
3. Dyslexia
Dyslexia adalah kesukaran dalam membaca yang tidak didasari oleh gangguan neurologis, tidak ada bukti tentang adanya kerusakan otak atau gangguan organis lainnya.

4. Aphasia
Untuk pertama kalinya, aphasia dikenal sebagai penyakit yang terpisah pada tahun 1961, oleh seorang ahli saraf (neurology) Perancis bernama Broca.
5. Bahasa Orang Tunarugu
Kesukaran pada anak-anak atau orang-orang tunarungu ialah mereka tidak dapat mendengar suara yang mereka produksi untuk mendapatkan umpan balik.
6. Beberapa Cara Mengukur Kedwibahasaan
W.E. Lambert telah mengemabngkan suatu alat untuk mengukur kedwibahasaan dengan mencatat hal-hal berikut.
• Waktu reaksi seseorang terhadap dua bahasa.
• Kecepatan reaksi dapat diukur pula dari bagaimana seseorang melaksanakan perintah-perintah yang diberikan dalam bahasa yang berbeda.
• Kemampuan seseorang melengkapkan suatu perkataan
• Mengukur kecenderungan (preferences) pengucapan secara spontan.
7. Hubungan Antara Kewibahasaan Dengan Intelingensi
Studi dari lambert telah mengontrol faktor sosial ekonomi, mendapatkan hasil yang sebaliknya dimana anak-anak dwibahasa dalam hal IQ sedikit lebih tinggi dari pada anak ke bahasa.
8. Hubungan antara kedwibahasaan dengan fungsi kognitif
Dikatakan bahwa anak dwibahasa memperoleh ‘flexibility set’ yang berguna dalam tugas-tugas berpikir yang berbeda, dimana dituntut adanya originalitas dan daya temu (inventiveness), yang berarti kedwibahasan mempunyai efek positif terhadap fungsi kognitif.

B. PENGAJARAN BAHASA ASING
Dipertanyakan apakah ada kesamaan dalam hal seseorang anak belajar bahasa pertamanya (bahasa ibu) dengan orang dewasa atau anak belajar bahasa asing. dalam kenyataannya, ternyata sukar untuk mencari pararelitas antara keduanya dan yang nampak justru lebih banyak perbedaannya dari pada kesamaannya.

C. METODA MENGAJAR BAHASA ASING
Ada tiga metode umum yang telah dipergunakan dalam pengajaran bahasa, yaitu
a. Metoda Grammar Translation
b. Metoda adiolingual
c. Metoda code learning

Rangkuman Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia (Soenjono Dardjowidjojo)

TUGAS PSIKOLINGUISTIK
(Tugas Diajukan Untuk Memeroleh Nilai Tugas Psikolinguistik)
Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia
(Soenjono Dardjowidjojo)

Oleh:
Iwan Sugianto
2006210002

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS DR. SOETOMO
SURABAYA
2008

PSIKOLINGUISTIK

Psikolinguistik atau psikologi bahasa ialah kajian faktor-faktor psikologi dan neurobiologi yang membolehkan manusia memperoleh, menggunakan, dan memahami bahasa. Penglibatan-penglibatan singkat dalam bidang ini pada mula-mulanya merupakan usaha-usaha falsafah, diakibatkan sebahagian besarnya oleh kekurangan data-data yang padu tentang bagaimana otak manusia berfungsi. Penyelidikan moden mempergunakan biologi, neurosains, sains kognitif, dan teori maklumat untuk mengkaji bagaimana otak memperoses bahasa. Adadnya beberapa subdisiplin; umpamanya, teknik-teknik tak invasif untuk mengkaji pengerjaan neurologi otak semakin digunakan, dengan neurolinguistik kini merupakan sebuah bidang baru pada dirinya.
Psikolinguistik meliputi proses-proses kognitif yang membolehkan penjanaan ayat-ayat yang bertatabahasa dan bermakna dari segi perbendaharaan kata dan struktur tatabahasa, serta proses-proses yang membolehkan pemahaman pernyataan, perkataan, teks, dan sebagainya. Psikolinguistik perkembangan mengkaji keupayaan bayi-bayi dan kanak-kanak untuk membelajari bahasa, biasanya melalui kaedah-kaedah uji kaji atau sekurang-kurangnya kaedah kuantitatif (dan bukannya pencerapan naturalistik seperti yang dilakukan oleh Jean Piaget dalam penyelidikannya terhadap perkembangan kanak-kanak).

Hakikat bahasa
Hakikat bahasa sebagai sistem vokal, kemanasukaan bahasa, dan fungsi komunikatifnya telah diuraikan agak mendalam dalam bagian ini. Bahasa sebagai sebuah sistem terstruktur memulai pembahasan, kemudian diikuti oleh pembahasan bahasa sebagai lambang bunyi. Pada bagian tersebut dibahas, bahwa bahasa bukanlah bunyi yang sembarangan dan caka, melainkan terstruktur secara rapi sehingga bunyi-bunyi yang tidak terangkai menurut sistem fonologis sebuah bahasa umumnya sulit untuk dikenali oleh penutur asli bahasa tersebut. Pada bagian selanjutnya pembahasan dikembangkan pada pembahasan mengenai, apa saja sebagai lambangnya bunyi vokal. Dalam pembahasan ini dibahas bahwa hanya bunyi-bunyi tertentu saja yang tergolong pada bunyi bahasa. Kemudian, pembahasan diakhiri dengan membahas bahasa sebagai sistem komunikasi berdasarkan keterikatan antara ciri-ciri generik tindak komunikasi, ciri-ciri konteks komunikasi dan pemilihan ragam bahasa yang cocok untuk tindak komunikasi bahasa tersebut.

Pendekatan dalam psikolinguistik
Pada bagian awal telah disajikan paparan mengenai definisi kognitif dan model kognitif sebagai pendekatan dalam psikolinguistik. Di dalam paparan tersebut, Anda menemukan penjelasan mengenai kelebihan-kelebihan bahasa atas kemampuan lain manusia dalam menopang kehidupan manusia. Kemampuan manusia dalam memahami dan menyimak ribuan bahkan jutaan kata dalam kehidupannya serta hakikat kemampuan tersebut akan disinggung secara garis besar pada pembukaan sub pokok bahasan ini.

Kaidah-kaidah bahasa
Pada subpokok bahasan kedua, Anda telah mendapatkan penjelasan mengenai kreativitas bahasa dan kaidah-kaidah yang mengaturnya. Pada satu sisi, bahasa memiliki sifat kreatif dan lentur, di sisi lain bahasa juga memiliki kaidah-kaidah yang membatasi kreativitas dan kelenturan tersebut. Sudah bisa Anda duga bahwa paparan dalam bagian ini akan sangat menarik bagi Anda. Secara garis besar, paparan ini meliputi ciri-ciri bahasa manusia yang berkaitan dengan ciri kreativitas bahasa, seperti ketidakterikatan pada rangsangan luar maupun rangsangan dalam, keterikatan ungkapan bahasa manusia dengan situasi penggunaannya, dan kemampuan sebuah bahasa dalam menghasilkan kosakata baru dalam upaya mewadahi temuan-temuan baru dalam konteks budaya tempat bahasa tersebut digunakan.
Selanjutnya sub pokok bahasan ini berkaitan dengan kaidah-kaidah yang mengatur pembentukan ungkapan-ungkapan kebahasaan. Dalam perjalanan Anda membaca nanti, Anda akan mulai memahami mengapa meskipun manusia memproses jutaan kata-kata dan ungkapan-ungkapan baru, keasingan ungkapan-ungkapan baru ini tidak terasa dan tidak tersadari.
Pada bagian kedua dari sub pokok bahasan ini, telah dibahas relevansi teori kognitif dan teori perkembangan kognitif dengan pengajaran bahasa. pembahasan akan dimulai dengan upaya-upaya awal ke arah penggunaan teori kognitif Piaget ke dalam pengajaran bahasa serta penilaian mengenai ketetapannya. Kemudian, diikuti oleh pendekatan Taylor dan Taylor yang mengemukakan pendekatan proses komputer dalam menjelaskan proses kognitif manusia serta keterkaitannya dengan belajar bahasa.

Keterkaitan Psikolinguistik Dengan Pengajaran Bahasa
Model-model keterkaitan antara bahasa, kognitif dan Sosial dan Peranan Pengajaran. Pada subpokok bahasan ini telah dibahas dua hal penting sekaitan dengan pembahasan mengenai pemerolehan bahasa kedua, yakni pembahasan mengenai keterkaitan antara kognitif, bahasan dan sosial dan peranan pengajaran formal dalam kegiatan pemerolehan bahasa. Melalui pembahasan tersebut, sub pokok bahasan ini telah berhasil menegaskan kembali fungsi kemampuan kognitif, fungsi kemampuan berbahasa dan fungsi seseorang.
Pada bagian awal telah disajikan tiga model keterkaitan antara faktor-faktor bahasa, kognitif dan sosial. Sekaitan dengan itu, telah diketengahkan tiga model utama, yakni: model reduksionis, model interaksionis dan model terpadu. Ketiga model ini menjadi landasan penelitian dan pemahaman peranan dan keterkaitan faktor kognitif, faktor bahasa, dan faktor sosial dalam komunikasi bahasa. Kelebihan dan kelemahan masing-masing model juga telah dibahas secara umum dalam bagian ini.

Proses Pemerolehan Bahasa
Pada bagian selanjutnya, telah dibahas mengenai peranan pengajaran formal dalam proses pemerolehan bahasa. Pendapat-pendapat para ahli dalam bidang ini dikemukakan dan dibahas. Kemudian juga disajikan berbagai hasil kajian dalam bidang ini. Pendapat-pendapat tersebut terangkum dalam tiga aliran utama: aliran lintascara, aliran non-lintascara, dan aliran keragaman.
Aliran pertama, yakni aliran lintascara, berpendapat bahwa belajar dapat berkembang menjadi pemerolehan, dan sebaliknya pemerolehan dapat kemudian dilanjutkan dengan belajar. Di lain pihak, aliran non-lintascara berpendapat bahwa pemerolehan tidak dapat berkembang menjadi belajar, dan begitu pun sebaliknya. Pemerolehan dan belajar merupakan dua hal yang berbeda. Terakhir, aliran keragaman beranggapan bahwa pembelajar memiliki pendekatan yang berbeda-beda sesuai dengan latar belakang mereka masing-masing dan sesuai dengan jenis dan karakteristik bahan ajar yang dipelajari: Meskipun demikian, ketiga aliran ini beranggapan bahwa pengajaran formal hanya dapat membantu mempercepat pemerolehan dan bukan menentukan hasil pemerolehan.

Bidang Kajian Psikolinguistik
Psycholinguistik bersifat antara disiplin dan dikaji oleh orang-orang daripada berbagai-bagai bidang, seperti psikologi, sains kognitif, dan linguistik. Adanya banyak subbahagian dalam bidang psikolinguistik yang mendasari komponen-komponen bahasa manusia.
1. Fonetik dan fonologi adalah berkenaan dengan kajian bunyi pertuturan. Dalam bidang psikolinguistik, penyelidikan menumpukan perhatian pada bagaimana otak memproses dan memahami bunyi-bunyi itu.
2. Morfologi ialah kajian struktur-struktur kata, khususnya hubungan antara perkataan-perkataan yang berkait (seperti jalan dan berjalan), dan pembentukan perkataan berdasarkan peraturan-peraturan (umpamanya, pembentukan kata berimbuhan).
3. Sintaksis ialah kajian pola-pola yang menetapkan bagaimana perkataan-perkataan digabungkan untuk membentuk ayat.
4. Semantik adalah berkenaan dengan makna perkataan-perkataan dan ayat-ayat. Jika sintaksis adalah berkenaan dengan struktur formal ayat, semantik mengolahkan maksud ayat-ayat yang sebenar.
5. Pragmatik adalah berkenaan dengan peranan konteks dalam pentafsiran makna.
6. Kajian tentang pengecaman kata dan pembacaan memeriksa proses-proses yang terlibat dalam pemerolehan maklumat ortografi, morfologi, fonologi, dan semantik daripada pola-pola dalam teks tercetak.

Teori-Teori Psikolinguistik
Teori-teori mengenai bagaimana bahasa bertindak dalam akal manusia mencoba menjelaskan, antara lain, bagaimana kita mengaitkan bunyi-bunyi (atau isyarat-isyarat) bahasa, dan bagaimana kita menggunakan sintaksis — iaitu, bagaimana kita dapat menyusun perkataan-perkataan untuk menghasilkan dan memahami urutan-urutan kata yang kita panggil "ayat". Yang pertama antara perkara-perkara ini — mengaitkan bunyi dengan maksud — tidak menimbulkan begitu banyak perbalahan dan secara amnya dianggap sebagai bidang yang komunikasi haiwan dan manusia mempunyai sekurang-kurangnya sesetengah persamaan (sila lihat Komunikasi haiwan). Sebaliknya, sintaksis adalah penuh dengan perbalahan, dan merupakan tumpuan perbincangan yang berikut.
Pada dasarnya, terdapat dua buah aliran fikiran tentang bagaimana kita dapat mencipta ayat-ayat sintaksis:
1. Sintaksis ialah hasil evolusi kecerdasan manusia yang semakin meningkat dengan berlalunya masa, dan faktor-faktor sosial yang menggalakan perkembangan bahasa pertuturan;
2. Bahasa wujud kerana manusia mempunyai keupayaan semula jadi untuk memperoleh apa yang telah dipanggil "tatabahasa sejagat".
Pandangan kedua ini menganggap bahawa keupayaan manusia untuk memperoleh sintaksis adalah "terbina" di dalam otak, dan mendakwa bahawa, sebagai contoh, ciri-ciri sintaksis yang rumit seperti rekursi tidak dapat difahami juga oleh makhluk-makhluk bukan manusia yang paling cerdas dan sosial. (Rekursi, umpamanya, termasuk penggunaan ganti nama relatif untuk merujuk kembali kepada bahagian-bahagian ayat yang awal — "Gadis itu yang keretanya menghalang pemandangan pokok yang saya tanam pada tahun lalu ialah kawan saya".) Keupayaan untuk menggunakan sintaksis seperti ini tidak akan wujud tanpa konsep semula jadi yang mengandungi sokong bawah untuk peraturan-peraturan tatabahasa yang menghasilkan rekursi, berkata pandangan "semula jadi" Oleh itu, kanak-kanak yang membelajari sesebuah bahasa mempunyai ruang pencarian yang luas untuk memeriksa dengan teliti antara tatabahasa-tatabahasa manusia yang mungkin, dan secara logik memilih bahasa(-bahasa) yang dituturkan di dalam komuniti penuturnya. Sintaksis ini, menurut sudut pandangan kedua, adalah yang mentakrifkan bahasa manusia dan menyebabkannya berbeza juga daripada bentuk-bentuk komunikasi haiwan yang paling canggih.

Perkembangan Psikolinguistik
Pandangan pertama adalah amat popular sehingga kira-kira tahun 1960, dan diwakili oleh teori-teori mentalisme Jean Piaget dan penyokong empirisisme, Rudolf Carnap. Aliran fikiran psikologi yang dikenali sebagai faham ketingkahlakuan (sila lihat Tingkah laku lisan (1957) oleh B.F. Skinner) mengemukakan pandangan bahawa bahasa (termasuk sintaksis) ialah tingkah laku yang dibentuk oleh gerak belas terlazim. Sudut pandangan kedua — iaitu "yang semula jadi" — boleh dikatakan secara adil sebagai bermula dengan ulasan Noam Chomsky yang amat kritis terhadap buku Skinner pada tahun 1959 di dalam halaman-halaman jurnal Bahasa [1]. Ulasan itu memulakan apa yang telah diistilahkan sebagai "revolusi kognitif" dalam bidang psikologi.
Bidang psikolinguistik sejak masa itu telah ditakrifkan oleh gerak-gerak balas terhadap Chomsky. Pandangan penyokong masih menganggap bahawa keupayaan manusia untuk menggunakan sintaksis adalah berbeza secara kualitatif daripada sebarang komunikasi haiwan. Keupayaan itu mungkin dihasilkan oleh mutasi yang menggalakkan (terlalu tidak mungkin), atau (lebih mungkin) oleh penyesuaian kemahiran-kemahiran yang dikembangkan untuk tujuan-tujuan yang lain. Dengan kata yang lain, sintaksis tepat mungkin memenuhi keperluan-keperluan kelompok; ungkapan-ungkapan linguistik yang lebih baik mungkin menghasilkan kepaduan, kerjasama, dan potensi untuk hidup, tetapi sintaksis tepat hanya dapat berkembang daripada sintaksis asas — atau tiada sintaksis — yang tidak mempunyai sebarang nilai hidup dan oleh itu, langsung tidak akan berkembang. Oleh itu, seseorang harus melihat pada kemahiran-kemahiran lain yang ciri-cirinya mungkin berguna untuk sintaksis. Dalam istilah biologi evolusi moden, kemahiran-kemahiran ini dikatakan "disesuaikan lebih dahulu" untuk sintaksis (sila lihat "Eksaptasis"). Apakah kemahiran-kemahiran ini yang sebenarnya merupakan tumpuan penyelidikan terkini, atau sekurang-kurangnya, tekaan.
Pandangan penentang masih menganggap bahawa bahasa (termasuk sintaksis) ialah hasil daripada perkembangan kecerdasan selama beratus-ratus ribu tahun, serta interaksi manusia selama berpuluh-puluh ribu tahun. Dari sudut pandangan ini, sintaksis dalam bahasa beransur-ansur meningkatkan kepaduan kumpulan dan potensi untuk hidup. Bahasa, termasuk sintaksis dan lain-lain, ialah artifak kebudayaan. Pandangan ini mencabar pandangan "semula jadi" kerana kebenarannya tidak dapat dibuktikan secara saintifik; dengan kata yang lain, ia tidak dapat diuji. Fakta bahawa sesuatu struktur sintaksis yang dapat difikirkan tidak wujud dalam mana-mana bahasa di dunia adalah suatu pencerapan yang memang menarik, tetapi ia bukannya bukti tentang kekangan genetik terhadap bentuk-bentuk yang mungkin, ataupun bukti bahawa bentuk-bentuk itu tidak dapat wujud atau tidak dapat dibelajari.
Ahli-ahli teori sezaman, selain daripada Chomsky, yang mengerjakan bidang teori-teori psikolinguistik termasuk George Lakoff, Steven Pinker, dan Michael Tomasello.

Pengkaedahan Dalam Bidang Psikolinguistik
Kebanyakan perkaedahan dalam bidang psikolinguistik mengambil bentuk uji-uji kaji tingkah laku. Dalam jenis-jenis kajian ini, subjek-subjek eksperimen diberikan sesuatu bentuk input linguistik dan dimintai melakukan sesuatu tugas (umpamanya, membuat pertimbangan, menghasilkan semula rangsangan, membaca perkataan yang dipaparkan dengan kuat). Masa tindak balas (biasanya pada peringkat milisaat) dan kadar jawapan yang betul paling biasa digunakan untuk mengukur prestasi.
Tugas-tugas ini mungkin termasuk meminta subjek menukarkan kata nama menjadi kata kerja; umpamanya, "buku" membayangkan "menulis", "air" membayangkan "minum", dan sebagainya. Lagi satu eksperimen mungkin memberikan ayat aktif seperti "Ali membaling bola kepada Ahmad", serta padanan ayat pasifnya, "Bola itu dibaling oleh Ali kepada Ahmad", lalu bertanya, "Siapakah yang membaling bola itu?" Kita mungkin akan menyimpulkan bahawa ayat-ayat aktif dapat diproses dengan lebih mudah (lebih cepat), berbanding dengan ayat-ayat pasif (sebenarnya, ini telah dibuktikan benar). Lagi menarik, kita mungkin mendapati bahawa sesetengah orang tidak berupaya memahami ayat-ayat pasif (ini juga terbukti benar), dan kita mungkin akan mengambil langkah-langkah sementaraan untuk memahami jenis-jenis kekurangan bahasa yang tertentu (secara amnya dikumpulkan ke dalam istilah afasia yang umum).
Sehingga kemunculan teknik-teknik perubatan tak invasif, pembedahan otak merupakan cara yang lebih disukai oleh penyelidik-penyelidik bahasa untuk memahami bagaimana bahasa bertindak di dalam otak. Umpamanya, pemotongan korpus kalosum (berkas saraf yang mengaitkan kedua-dua hemisfera otak) merupakan rawatan untuk sesetengah jenis epilepsi pada suatu ketika. Jadi penyelidik-penyelidik dapat mengkaji cara-cara bagaimana pemahaman dan penghasilan bahasa akan dijejaskan oleh pembedahan yang drastik. Sudah tentu, otak tidak dibedah hanya untuk mengkaji bahasa. Bagaimanapun, jika patologi memerlukan pembedahan otak, penyelidik-penyelidik bahasa akan mengambil kesempatan itu untuk mengejar penyelidikan mereka.
Teknik-teknik tak invasif yang lebih baru kini termasuk pengimejan otak oleh tomografi pancaran positron (PET); pengimegan resonans magnet fungsian (fMRI); keupayaan berkait peristiwa (ERP), serta perangsangan magnet transkranial (TMS). Teknik-teknik pengimejan otak berbeza-beza dari segi peleraian ruang dan masaan (fMRI mempunyai peleraian sebanyak beberapa ribu neuron per piksel, manakala ERP mempunyai ketepatan pada peringkat milisaat). Setiap jenis perkaedahan memberikan kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan tersendiri untuk mengkaji sesuatu masalah dalam bidang psikolinguistik.
Pemodelan pengiraan merupakan lagi sejenis perkaedahan, dan merujuk kepada amalan membina model-model kognitif dalam bentuk atur cara boleh laku. Atur-atur cara ini amat berguna kerana ia mendorong ahli-ahli teori supaya mengemukakan hipotesis-hipotesis yang lebih jelas, dan kerana atur-atur cara ini boleh dipergunakan untuk menjanakan ramalan-ramalan yang lebih tepat bagi model-model teori yang amat rumit sehingga analisis diskursif tidak boleh dipercayai (umpamanya, model DRC untuk pembacaan dan pengecaman kata yang dicadangkan oleh Coltheart dan rakan-rakan sekerjanya).
Lebih terkini, penjejakan mata telah dipergunakan untuk mengkaji pemprosesan bahasa dalam talian. Bermula dengan Tanenhaus et al. sebilangan kajian telah mula menggunakan gerakan mata sebagai alat untuk mengkaji proses-proses kognitif yang berkait dengan bahasa pertuturan. Oleh sebab gerakan-gerakan mata adalah amat berkait dengan fokus perhatian terkini, pemprosesan bahasa boleh dikaji melalui pengawasan gerakan-gerakan mata ketika seseorang subjek diberikan input linguistik.

Persoalan Dan Bidang Penyelidikan Dalam Bidang Psikolinguistik
Adanya beberapa soalan yang belum dijawab dalam bidang psikolinguistik. Sebahagiannya telah dikemukakan dalam bahagian "Teori-teori" di atas. Umpamanya, adakah keupayaan manusia untuk menggunakan sintaksis berdasarkan struktur-struktur mental semula jadi atau adakah pertuturan sintaksis suatu fungsi kecerdasan dan interaksi dengan manusia yang lain? Bolehkah kita mereka bentuk uji-uji kaji psikolinguistik untuk menjawabnya? Penyelidikan dalam bidang komunikasi haiwan dapat memberi sumbangan yang banyak dalam persoalan-persoalan ini. Bolehkan sesetengah haiwan diajar sintaksis bahasa manusia? Jika ya, apakah maksudnya? Jika tidak, apakah maksudnya pula?
Bagaimanakah bayi-bayi dapat membelajari bahasa? Hampir semua bayi manusia yang sihat memperoleh bahasa dengan mudah pada tahun-tahun pertama dalam hidup mereka. Ini adalah benar untuk semua kebudayaan dan masyarakat. Dan bagaimanakah pula dengan kanak-kanak yang tidak membelajari bahasa dengan betul? Terdapat satu bidang yang luas yang dipanggil afasia yang mengolahkan kekurangan-kekurangan bahasa. Orang-orang dewasa lebih susah membelajari bahasa kedua berbanding dengan bayi-bayi membelajari bahasa pertama mereka (bayi-bayi dwibahasa berupaya membelajari kedua-dua bahasa asli mereka dengan mudah). Oleh itu, tempoh genting mungkin wujud ketika bahasa dapat dibelajari dengan mudah. Banyak penyelidikan dalam psikolinguistik menumpukan perhatian pada bagaimana keupayaan ini berkembang dan merosot dengan berlalunya masa. Ia kelihatan juga bahawa semakin banyak bahasa seseorang mengetahui, semakin mudah orang itu dapat membelajari bahasa-bahasa yang baru.
Penyelidikan terkini yang menggunakan teknik-teknik pengimejan tak invasif yang baru mencuba memahami di manakah bahasa terletak di dalam otak. Betapa setempatkah bahasa? Bagaimanakah ia dibahagikan dari satu hemisfera ke hemisfera yang lain? Pemerihalan-pemerihalan tradisional yang lebih lama tentang fungsi-fungsi bahasa kawasan Broca, kawasan Wernicke, dan kawasan-kawasan lain di dalam otak akan dihalusi dengan penerusannya penyelidikan.